Inisiator Surat 150 Guru Besar untuk Turunkan Wapres Gibran Disebut Dekat dengan PDIP, Ini Penjelasannya
Kredit Foto: Tangkapan layar video YouTube Refly Harun
Akademisi sekaligus pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie menegaskan dirinya bukan anggota PDIP, meski mengaku dekat dengan partai itu dan bersahabat dengan Megawati Soekarnoputri.
Ia meminta publik membedakan hubungan pertemanan tersebut dari isi surat terbuka 150 guru besar yang meminta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri secara sukarela.
Pernyataan itu disampaikan Connie dalam podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang tayang pada 27 Oktober 2026. Connie merupakan salah satu penggagas surat tersebut bersama 13 inisiator lainnya.
Connie mengatakan ia kerap dikaitkan dengan PDIP karena kedekatannya dengan partai tersebut. Ia membenarkan adanya kedekatan itu, tetapi menegaskan statusnya.
“Saya bukan anggota. Saya hanya pengagum ideologi PDIP, dan saya kebetulan bersahabat, berteman dengan Ibu Mega,” ujarnya.
Menurut Connie, publik sering langsung memberi label tertentu kepadanya karena kedekatan itu. Padahal, kata dia, pertemanannya dengan Megawati dan PDIP merupakan hal yang sama sekali berbeda dari pernyataan akademik yang ia sampaikan.
Connie meminta agar isi pernyataan akademik bersama yang dapat diverifikasi dibedakan dari penafsiran politik yang berkembang di luar forum. Ia mengakui dalam kehidupan politik, hampir setiap peristiwa publik bisa ditafsirkan atau dimanfaatkan berbagai pihak.
Karena itu, ia mengaku tidak dapat memberi jaminan atas tindakan pihak-pihak di luar forum. “Itu di luar tanggung jawab saya,” katanya.
Ia menambahkan, jika kelompok politik mengutip surat tersebut, hal itu tidak otomatis membuktikan bahwa para penanda tangan memiliki hubungan atau agenda bersama dengan kelompok tersebut. Menurutnya, adanya penanda tangan yang dikenal dekat dengan partai tertentu juga tidak berarti seluruh guru besar dalam forum bergerak secara politik.
Menurut Connie, rujukan sikap para guru besar sudah jelas, yakni isi surat terbuka yang didukung 150 guru besar dan 13 inisiator. Surat itu memuat tiga poin, yaitu runtuhnya keteladanan dan etika bernegara, krisis legitimasi di mata generasi muda dan institusi pendidikan, serta beban politik bagi presiden yang menjabat dan stabilitas nasional.
Ia juga menekankan bahwa surat tersebut merupakan sikap moral dan etik berdasarkan ilmu, bukan gerakan politik berbasis kepentingan. Sebagai bukti konsistensi, Connie menyebut ia sudah mempersoalkan proses pencalonan Gibran sejak Pilpres 2024, ketika ia secara terbuka menyatakan mendukung Prabowo tetapi mempertanyakan kontroversi proses pencalonan Gibran.
Connie menegaskan surat itu bukan pengganti mekanisme konstitusional pemberhentian wakil presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 7A dan 7B UUD 1945, yang melibatkan DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR. Ia mengatakan seruan mundur bersifat sukarela, bukan perintah hukum.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat