Kredit Foto: Istimewa
Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim melancarkan serangan rudal terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi.
Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak di tengah konflik yang melibatkan Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,48 atau 1,3% menjadi US$115,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat US$1,22 atau 1,22% menjadi US$101,12 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak terkoreksi hampir US$2 per barel pada perdagangan sebelumnya. Sebelumnya, harapan terhadap kemajuan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah sempat mengurangi kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan.
Kelompok Houthi pada Selasa (27/10/2026) mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco menggunakan rudal balistik. Kilang yang memiliki kapasitas pengolahan 550.000 barel per hari tersebut merupakan salah satu fasilitas energi strategis Arab Saudi.
Hingga laporan Reuters diterbitkan, otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung mengenai serangan tersebut. Namun, laporan mengenai insiden itu kembali meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran tersebut semakin besar karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia. Serangan terhadap fasilitas pengolahan maupun jalur ekspor berpotensi mengganggu kelancaran pasokan minyak ke pasar internasional.
Hampir seluruh ekspor minyak Arab Saudi melewati dua pelabuhan utama, yakni Ras Tanura di Teluk Persia dan Yanbu di pesisir Laut Merah. Kedua fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi minyak mentah negara tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi juga memperbesar risiko meluasnya gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan. Situasi ini membuat pasar terus mencermati perkembangan keamanan regional dan dampaknya terhadap ketersediaan minyak dunia.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan data persediaan minyak mentah AS. Jajak pendapat Reuters terhadap delapan analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 15.000 barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026.
Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan target produksi untuk Desember dalam pertemuan pada Minggu mendatang. Keputusan tersebut menjadi perhatian pasar karena produksi sejumlah negara anggota masih berada di bawah target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, ekspor minyak mentah Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam berpotensi menurun pada bulan depan. Penurunan tersebut diperkirakan terjadi seiring peningkatan produksi solar oleh kilang domestik Rusia setelah tercapainya kesepakatan energi dengan Washington.
Perkembangan geopolitik, kondisi persediaan minyak AS, dan kebijakan produksi OPEC+ akan menjadi sejumlah faktor yang dicermati investor dalam menilai prospek harga minyak dunia selanjutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: