Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Anjlok 7,63%, Brent Kembali ke Atas US$105 per Barel

Sempat Anjlok 7,63%, Brent Kembali ke Atas US$105 per Barel Kredit Foto: SKK Migas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah muncul laporan bahwa militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran.

Kabar tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan dan risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 48 sen atau 0,5% menjadi US$105,25 per barel pada pukul 01.04 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 47 sen atau 0,5% ke level US$96,93 per barel.

Penguatan tersebut terjadi setelah harga minyak Brent pada perdagangan Senin (2/11/2026) sebelumnya anjlok US$8,66 atau 7,63% menjadi US$104,77 per barel. Penurunan tajam itu dipicu optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran.

Namun, sentimen pasar kembali berubah setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa AS telah menyerang Pulau Qeshm, dengan mengutip sejumlah pejabat AS. Beberapa pejabat menyebut serangan tersebut bersifat defensif untuk mencegah Iran memiliki keleluasaan menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan laporan serangan tersebut kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Kondisi ini terjadi ketika pasar sebelumnya mulai memperhitungkan kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

"Laporan tersebut menambahkan kembali premi risiko ke dalam harga minyak. Ketika pasar mulai memperhitungkan jalur diplomasi, aktivitas militer yang masih berlangsung kembali mengubah sentimen," ujar Waterer.

Di sisi lain, Teheran pada Senin menyatakan bahwa komunikasi dengan Washington untuk mengakhiri perang masih berlanjut. Pernyataan tersebut disampaikan setelah rangkaian pembicaraan antara Iran dan mediator Qatar berakhir dengan sejumlah proposal yang telah diperbarui, tetapi belum menghasilkan terobosan.

Presiden AS Donald Trump juga sebelumnya menyampaikan keraguan mengenai kemungkinan melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Dia bahkan menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Teheran masih terbuka.

Meski demikian, konflik AS-Iran yang dimulai pada akhir Februari telah berdampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.

Gangguan lalu lintas kapal di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global. Apabila konflik kembali meningkat, pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Sementara itu, harga minyak Brent sepanjang Oktober telah ditutup pada level tertinggi dalam enam bulan. Penguatan tersebut sebelumnya didorong kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah kembali memburuk setelah pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Siap-Siap Biaya Hidup Masyarakat Ikut Terkerek

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$111, Kemenhub Tahan Fuel Surcharge Pesawat di 40%

Di tengah tekanan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan sejumlah kewenangan kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan perdamaian.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peluang diplomasi masih terbuka, meskipun ketegangan militer di kawasan belum sepenuhnya mereda. Pergerakan harga minyak dunia masih akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan Washington dan Teheran serta keamanan jalur distribusi energi di Selat Hormuz

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra