Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        'Kurikulum Jangan Diotak-atik!' P2G Beri Sindiran Menohok ke Kepala BGN Soal MBG

        'Kurikulum Jangan Diotak-atik!' P2G Beri Sindiran Menohok ke Kepala BGN Soal MBG Kredit Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman, Zanatul Haeri menyoroti usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) agar edukasi gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

        Iman menolak usulan tersebut. Menurutnya, pembelajaran terkait gizi telah masuk dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Terlebih, pelaksanaan MBG dinilainya mengganggu proses belajar-mengajar.

        "MBG nya menyita waktu guru, mengurangi jam belajar, sekarang MBG nya dimasukan ke kurikulum. Kalau Gizi, dari SD sampai SMA sudah diajarkan di pelajaran IPA dan turunannya," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Rabu (28/10).

        Ia juga menyampaikan saran kepada Kepala BGN agar tidak mengubah kurikulum pendidikan.

        "Saran saya pak, kurikulumnya jangan diotak-atik, bapak kan kepala BGN bukan menteri pendidikan," tegasnya.

        Lebih lanjut, tanpa harus mengubah kurikulum, edukasi gizi dapat dilakukan secara kontekstual.

        "Biar kontekstual, tanpa harus merubah kurikulum, cukup menjadikan racun MBG sebagai konteks, bahan diskusi. Misal 10 jenis racun MBG. Kalau sudah jadi infografisnya, jadikan kurikulum di internal BGN, agar tidak mengirim racun ke sekolah," ucap Iman.

        Ia menilai, pihak yang seharusnya belajar tentang gizi bukanlah guru dan siswa, melainkan pemerintah yang perlu belajar membedakan antara racun dan gizi.

        Sebelumnya, Sudaryono mengusulkan agar MBG masuk ke dalam kurikulum pendidikan sebagai sarana edukasi gizi.

        Baca Juga: Kepala BGN Usul Program MBG Jadi Mata Pelajaran Wajib di Sekolah, Siswa Bakal Wajib Ujian Makan Gratis?

        "Jadi bagaimana memasukkan MBG atau edukasi gizi ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang ada di Pendidikan kita," kata Sudaryono dikutip dari akun Instagramnya, Selasa (27/10/2026). 

        Ia mengibaratkan usulan tersebut seperti pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Jika PJOK mewadahi aktivitas olahraga ke dalam pelajaran resmi, materi edukasi gizi ini diharapkan menjadi wadah khusus bagi anak-anak untuk mempelajari seluk-beluk literasi gizi seimbang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: