Kredit Foto: PLN IP
PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menguji pemanfaatan hidrogen dan amonia sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Pengujian di PLTDG Pesanggaran, Bali, menunjukkan rasio campuran hidrogen telah mencapai 23% pada 2025, naik dari 2% saat pengujian pertama pada 2022.
Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan perusahaan, penggunaan hidrogen dalam campuran bahan bakar berpotensi meningkatkan efisiensi mesin hingga 5% dan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil hingga 17%. Teknologi tersebut juga diperkirakan dapat menekan emisi karbon sebesar 9.600 ton CO₂ per tahun.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan, pengembangan teknologi tersebut dilakukan untuk mencari alternatif bahan bakar yang dapat mendukung pengurangan emisi tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik. Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan,” ujar Bernadus dalam keterangan resmi, Selasa (27/10/2026).
Selain hidrogen, PLN IP menguji pencampuran amonia dengan batu bara di PLTU Labuan. Pada rasio campuran amonia sebesar 1%, pengujian menunjukkan potensi peningkatan efisiensi pembangkit hingga 1,3%.
Perusahaan memperkirakan penerapan teknologi tersebut dapat menghemat konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun. Penurunan emisi karbon diproyeksikan mencapai 1,8%, dengan potensi pengurangan emisi hingga 35.000 ton per tahun.
Baca Juga: Upaya PLN IP Jeranjang Restorasi Terumbu Karang dan Kembangkan Wisata Bahari Lombok
Baca Juga: PLN Sebar Diskon Tambah Daya Listrik 50% hingga 4 November 2026
Untuk memasok bahan baku amonia hijau, PLN IP merencanakan pemanfaatan ekses hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok. Rencana ini membuka peluang pemanfaatan hidrogen yang tersedia di ekosistem pembangkitan untuk mendukung pengembangan bahan bakar alternatif.
Bernadus mengatakan pengembangan teknologi tersebut akan dilanjutkan melalui pengujian dan evaluasi teknis sebelum penerapannya dikembangkan lebih lanjut.
“Kami terus mendorong pengembangan teknologi ini melalui pengujian dan evaluasi agar manfaatnya dapat dioptimalkan secara berkelanjutan,” tandasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra