Sinyal untuk Singapura, Gerindra Tegaskan Watak Geopolitik Prabowo: Indonesia Terbuka Tanpa Tunduk
Kredit Foto: Istihanah
Ketidakpastian geopolitik global dan memanasnya hubungan bilateral dengan sejumlah negara tetangga direspons secara tegas oleh lingkaran inti kekuasaan dari Presiden Prabowo Subianto. Hal ini juga terjadi bertepatan dengan tengah memanasnya hubungan dari Indonesia dan Singapura.
Petinggi Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad melontarkan sinyal kuat kepada dunia internasional mengenai postur dan watak politik luar negeri dari Indonesia. Ia memastikan bahwa di bawah pemerintahan yang baru, negara tidak akan pernah berkompromi jika menyangkut kedaulatan negara, namun tetap rasional dalam menjalin kerja sama strategis.
Baca Juga: Penantian Roy Suryo dan Publik Terbayar, Jokowi Akhirnya Diseret ke Pengadilan Jakarta Timur
Dasco menyoroti bahwa dunia kini tengah dikepung oleh guncangan ekonomi dan keamanan, mulai dari ketegangan dunia yang mengacaukan rantai pasok energi global hingga memicu inflasi domestik, sampai pada kompetisi hegemoni di Laut Cina Selatan.
Dalam menghadapi badai ketidakpastian tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah akan secara konsisten memegang teguh prinsip politik luar negeri yang bebas aktif.
“Indonesia harus tetap teguh pada politik luar negeri bebas aktif. Kita tidak menjadi perpanjangan tangan kepentingan negara mana pun, tetapi tidak pula menutup pintu kerja sama,” tegas Dasco dikutip Kamis (29/10/2026).
Pernyataan ini sekaligus menjadi balasan elegan terhadap tekanan-tekanan eksternal yang belakangan mencoba mendikte kebijakan dalam negeri, baik dalam urusan tata niaga energi maupun penanganan krisis lingkungan.
Indonesia sendiri dituntut untuk siap menghadapi persaingan teknologi dan perubahan arah perdagangan dunia yang semakin mempersempit ruang bagi negara-negara lemah. Dasco sendiri dalam menghadapi hal itu merumuskan doktrin "defensif aktif" dalam postur pertahanan nasional era Prabowo.
“Dan dalam pertahanan, sikap defensif aktif berarti waspada, mampu mencegah ancaman, dan berinisiatif secara terukur tanpa mencari permusuhan. Kita harus tegar dan tegas menjaga kedaulatan, sekaligus arif menjaga perdamaian,” tegasnya.
Pendekatan ini mengindikasikan bahwa pemerintah siap merespons setiap intervensi atau ancaman, termasuk tekanan ekonomi dan disinformasi, dengan tindakan balasan yang proporsional dan terukur.
Ia menyadari bahwa pemerintah tidak memiliki kendali penuh atas kekacauan yang terjadi di luar batas teritorialnya, namun pihaknya memegang kendali penuh atas sikap dan respons yang akan diambil. Sinyal pamungkas ini dialamatkan kepada setiap negara yang mencoba meremehkan keteguhan Indonesia.
“Kita pun tidak dapat mengendalikan seluruh guncangan dunia; yang dapat kita tentukan adalah watak Indonesia saat menghadapinya: berani tanpa gegabah, terbuka tanpa tunduk, bersatu tanpa kehilangan nalar kritis,” tegas Dasco.
Adapun pesan ini muncul di tengah panasnya hubungan Indonesia dan Singapura. Rentetan peristiwa antara pemangkasan ekspor gas dan kritik tajam soal kabut asap diyakini menjadi penyebab ketegangan kedua negara terjadi di Asia Tenggara.
Diplomat Senior Singapura, Bilahari Kausikan baru-baru ini terang-terangan menyebut manuver pemangkasan ekspor gas ke negaranya sebagai bentuk intimidasi dari Indonesia.
Sementara Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
Baca Juga: PSI: Upaya Hak Angket Ijazah Gibran Akan Berakhir Sia-sia!
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar