Kredit Foto: Pertamina
Di tengah Denpasar yang terus berkembang, hamparan sawah Subak Sembung Uma Palak Lestari masih bertahan dengan hijaunya. Di kawasan perkotaan yang menghadapi tekanan alih fungsi lahan itu, para petani tetap mengolah tanah, menanam padi, dan merawat sayuran.
Namun, mempertahankan sawah bukan perkara mudah. Ketika El Nino membawa ancaman kekeringan, air menjadi persoalan yang menentukan apakah mereka bisa terus menanam atau harus menunggu sampai pasokan kembali tersedia.
Bagi I Made Darayasa, Pekaseh atau Ketua Subak Sembung, persoalan itu bukan sekadar urusan teknis pengairan. Air menentukan keberlangsungan pekerjaan para petani yang menggantungkan hidup pada lahan mereka. Sebelum ada sistem pengairan yang memadai, petani di wilayah hilir kerap berebut air ketika musim kemarau datang. Jadwal tanam pun tidak selalu bisa dilakukan serentak.
“Sebelum ada SIUMA, petani kami yang ada di ujung, di hilir, itu berebutan air di musim kemarau. Semenjak adanya SIUMA ini, bisalah petani kami untuk memberikan sawahnya air,” kata Made saat ditemui disela kunjungan delegasi National Oil Company (NOC) ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) ke-51, di Bali, Rabu (28/10/2026).
SIUMA, singkatan dari Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak, hadir untuk menjawab persoalan tersebut. Sistem yang dihadirkan oleh PT Pertamina (Persero) lewat program Desa Energi Berdikari (DEB) ini memanfaatkan kincir air dan panel surya untuk menggerakkan pompa yang mengangkat kembali air sungai yang sebelumnya terbuang, kemudian menyalurkannya ke sawah petani di wilayah hilir. Dengan cara itu, air yang semula tidak termanfaatkan secara optimal bisa kembali mendukung kegiatan pertanian.
“Artinya, air yang terbuang itu dinaikkan dengan SIUMA, terus air itu dialirkan ke sawah-sawah kami yang berada di hilir,” ujar Made.
Teknologi tersebut tidak hanya membantu mengalirkan air. Dukungan energi terbarukan juga membuat kegiatan pertanian lebih efisien. SIUMA dilengkapi sistem pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 21 kilowatt-peak (kWp) dan mikrohidro. Teknologi sensor kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT) juga dikembangkan untuk membantu pemantauan kebutuhan irigasi, termasuk melalui grup WhatsApp petani.
Bagi petani, manfaat teknologi baru terasa ketika pekerjaan menjadi lebih mudah dan pengeluaran dapat ditekan. Wayan Sukadana, Ketua Komunitas Uma Palak Lestari, mengatakan keterbatasan tenaga kerja sebelumnya membuat petani harus mencari jasa pengolahan tanah dari luar kelompok. Kini, keberadaan traktor listrik memberi mereka pilihan untuk mengerjakan lahan sendiri tanpa selalu bergantung pada jasa sewa.
“Kalau bantuan dari Pertamina bagi petani itu banyak sekali. Semenjak adanya traktor kecil ini, petani tidak lagi mempergunakan sewa jasa orang lain untuk itu. Di sini memang kesulitan tenaga untuk pengolahan tanah. Semenjak Pertamina memberikan bantuan ini, petaninya bisa sendiri mengerjakan lahannya. Ya, lebih irit. Tidak ada solar atau bensin, kan cuma ngecas,” kata Wayan.
Efisiensi tersebut bukan hanya dirasakan dalam bentuk kemudahan kerja. Pertamina mencatat penghematan biaya operasional di kawasan ini mencapai Rp700.000 per bulan. Biaya jasa pengolahan lahan juga dilaporkan turun dari Rp25.000 menjadi Rp15.000 per are setelah petani memanfaatkan traktor elektrik.
Pada periode yang sama, pengembangan pertanian organik di Uma Palak Lestari juga mencatat perkembangan. Produktivitas padi meningkat dari 5,1 ton menjadi 7,5 ton per hektare, dengan sekitar lima hektare sawah dikelola untuk padi organik. Angka-angka itu memperlihatkan bahwa pemanfaatan energi dan pengembangan praktik pertanian berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan produktivitas lahan.
Namun, mempertahankan sawah tidak cukup hanya dengan memastikan air tersedia dan biaya produksi berkurang. Petani juga perlu memiliki pendapatan yang memungkinkan mereka merawat fasilitas yang sudah dibangun. Di sinilah pengelolaan kelompok menjadi bagian penting dari keberlanjutan program.
Pendapatan kelompok kembali untuk merawat kawasan
Uma Palak Lestari tidak hanya mengandalkan hasil panen. Kawasan ini berkembang menjadi tempat masyarakat berolahraga dan lokasi edukasi pertanian. Pengunjung dapat mengikuti kegiatan menanam bibit, memetik sayuran, atau memanfaatkan fasilitas yang dikelola kelompok. Petani juga memiliki kesempatan menjual hasil kebun secara langsung kepada pengunjung.
Menurut perhitungan kelompok yang disampaikan Wayan, kawasan tersebut dikunjungi sekitar 4.200 orang per bulan untuk aktivitas olahraga. Kunjungan juga membuka peluang pendapatan melalui parkir, penyewaan area, serta paket edukasi bagi anak-anak dan kelompok perusahaan.
Melansir data Pertamina, aktivitas kelompok Uma Palak Lestari disebut mampu menghasilkan pendapatan hingga US$32.500 per tahun. Nilai ekonomi itu menunjukkan bahwa manfaat program tidak berhenti pada penghematan biaya pertanian, tetapi turut berkembang melalui kegiatan ekonomi di sekitar kawasan.
Yang menarik, pendapatan kelompok tidak semata-mata dibagikan sebagai hasil usaha. Sebagian dialokasikan kembali untuk menjaga keberlangsungan fasilitas, memperbaiki kerusakan, dan merawat kebersihan kawasan. Dengan demikian, uang yang diperoleh dari kegiatan kelompok kembali menjadi sumber pembiayaan untuk mempertahankan aktivitas ekonomi dan lingkungan.
Wayan menjelaskan, pengelolaan tersebut menjadi bagian dari upaya agar kelompok tetap mampu menjalankan kegiatan tanpa selalu menunggu bantuan baru. Perawatan rutin dilakukan oleh anggota kelompok, sedangkan kerusakan yang membutuhkan keahlian khusus ditangani dengan bantuan teknisi.
Siklus ini menjadi penting bagi keberlanjutan program. Energi membantu petani bekerja lebih efisien; kegiatan pertanian dan kunjungan wisata menghasilkan pendapatan; pendapatan masuk ke kas kelompok; lalu kas digunakan kembali untuk pemeliharaan fasilitas. Manfaat program pun tidak berhenti pada bantuan awal, melainkan terus diputar untuk mendukung kegiatan berikutnya.
Meski demikian, pekerjaan rumah masih ada. Wayan menyebut kepiting air tawar yang merusak saluran irigasi sebagai salah satu kendala. Saluran yang berlubang membuat air bocor dan membutuhkan perbaikan. Karena biaya perbaikan menyeluruh cukup besar, kelompok harus mengatur pemeliharaan sesuai kemampuan keuangan yang tersedia.
Tantangan lain datang dari alih fungsi lahan. Letak Subak Sembung di tengah kota membuat keberadaan sawah menghadapi tekanan pembangunan. Bagi para petani, menjaga lahan tetap produktif berarti mempertahankan sumber penghidupan sekaligus ruang pertanian yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Dari Uma Palak ke 310 titik Desa Energi Berdikari
Apa yang berlangsung di Uma Palak Lestari merupakan gambaran lebih luas dari program Desa Energi Berdikari (DEB) PT Pertamina (Persero). Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, program DEB telah menjangkau 310 titik di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 desa telah mencapai tahap mandiri.
Capaian itu menjadi bagian dari upaya Pertamina menghubungkan pemanfaatan energi dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Berdasarkan papan informasi DEB yang ditampilkan dalam gelaran 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di Bali, program tersebut mencakup 274 instalasi panel surya, 25 program berbasis metana dan biogas, delapan mikrohidro, dua biodiesel, serta satu sistem hibrida.
Papan informasi yang sama mencatat 300.768 penerima manfaat, termasuk 62 penyandang disabilitas. Program tersebut juga mencakup 188 inisiatif ketahanan pangan berkelanjutan dan 71 program wisata energi. Selain itu, sebanyak 223 local heroes tercatat telah mendapatkan sertifikasi pengoperasian panel surya dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Dari sisi energi dan lingkungan, materi informasi DEB mencantumkan kapasitas energi terbarukan sebesar 1.595.500 watt-peak (Wp), produksi metana dan biogas mencapai 973.902 meter kubik per tahun, serta pengurangan emisi sebesar 1.153.885 ton CO₂ ekuivalen. Nilai ekonomi dari energi terbarukan juga tercatat mencapai Rp6,40 miliar per tahun.
Angka-angka tersebut memperlihatkan luasnya cakupan program. Namun, bagi Arya, ukuran keberhasilan yang tidak kalah penting adalah kemampuan masyarakat melanjutkan kegiatan setelah dukungan perusahaan berakhir. Program pemberdayaan, menurutnya, harus memberi ruang bagi masyarakat untuk menjadi pengelola sekaligus penentu keberlanjutan manfaatnya.
“Harus ada exit strategy. Kan kemandirian. Kalau ada kita terus, nggak berdikari namanya,” ujar Arya.
Ia menekankan, peran Pertamina bukan mengambil alih seluruh pekerjaan masyarakat, melainkan mendorong potensi lokal agar berkembang. Keberhasilan program, menurutnya, lahir dari keterlibatan bersama antara perusahaan dan warga yang memahami kebutuhan serta kondisi wilayahnya.
“Artinya, multiplier effect dan benefit-nya itu sangat luar biasa dan itu karena kita bersama mereka, bukan Pertamina aja, bukan hanya kita cuma ngasih, tapi kita bersama mereka, karena mereka yang membangun ini semua gitu,” jelas Arya.
Ia menambahkan, Pertamina berperan sebagai katalis yang membantu masyarakat mengembangkan potensi tersebut.
“Kita menjadi katalis, menjadi energi, energi yang mendorong. Kalau kita sendirian, mungkin nggak akan sebesar itu,” lanjutnya.
Pendekatan itu juga menarik perhatian delegasi National Oil Company (NOC) negara-negara Asia Tenggara yang mengunjungi Uma Palak Lestari dalam rangkaian ASCOPE. Menurut Arya, para delegasi memberikan respons positif karena kunjungan langsung ke program pemberdayaan masyarakat seperti itu menjadi pengalaman yang berbeda dalam forum energi regional.
“Tapi yang spesifik terkait dengan ini (CSR) di sini, hari ini. Karena tadi aku melihat dari antusiasme para tamunya, itu mereka bilang, ‘Ini kita belum pernah lihat yang seperti ini sebelumnya.’ Itu dari testimoni mereka,” ungkap Arya.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Energi dan Pastikan Keandalan Layanan bagi Masyarakat
Baca Juga: Delegasi NOC ASEAN Puji Program Desa Energi Berdikari Pertamina
Bagi Uma Palak Lestari, keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan panel surya, kincir air, atau traktor listrik. Ukurannya juga terlihat dari kemampuan petani menjaga sawah tetap produktif, mengelola pendapatan kelompok, dan merawat fasilitas agar dapat terus digunakan.
Di tengah ancaman kekeringan dan tekanan pembangunan kota, sawah yang tetap hijau royo-royo menjadi gambaran kerja panjang masyarakat dalam mempertahankan sumber penghidupannya. Energi terbarukan memberi dorongan, teknologi membuka pilihan, dan pendapatan kelompok membantu menjaga keberlanjutan. Namun, yang membuat semua itu terus berjalan adalah keterlibatan warga yang setiap hari merawat lahan dan mengelola hasilnya bersama-sama.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: