Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menyebut bahwa sekitar Rp10.000 triliun atau sekitar 30-40% perputaran ekonomi Indonesia tidak tercatat secara resmi.
Hashim mengatakan angka tersebut merupakan temuan data pemerintah, yang mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia ternyata jauh lebih besar daripada yang tercatat sebagai produk domestik bruto (PDB).
"Kalau PDB kita tercatat Rp25.000 triliun, itu diakui oleh IMF, Bank Dunia, Bank Indonesia, dan pemerintah kita. Ternyata ekonomi kita jauh lebih besar. Menurut Bank Dunia, kurang lebih 35-40 persen kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat," ungkapnya dalam rapat pimpinan nasional Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurut dia, perputaran ekonomi itu tidak tercatat di masa lalu lantaran maraknya aktivitas di pasar gelap, atau black market.
"Ternyata ekonomi kita 30-40 persen tidak tercatat. Itu berarti ada kurang lebih Rp10.000 triliun yang tidak tercatat," ungkap pria yang merupakan adik dari Presiden Prabowo Subianto.
Hashim lantas berandai-andai, jika saja segala aktivitas ini terekam secara resmi, ia meyakini posisi Indonesia pastinya akan lebih tinggi sebagai negara dengan pendapatan ekonomi terbesar di dunia.
"Berarti apa? Sesungguhnya ekonomi Indonesia bukan 16 terbesar di dunia, melainkan mungkin 12 atau 11 ekonomi terbesar di dunia. Ini patut dibanggakan," tegas dia.
Ia lantas mencontohkan beberapa bentuk aktivitas ekonomi di waktu dulu yang tidak tercatat resmi di sistem perbankan. Semisal, layanan jasa pijat panggilan yang kerap istrinya pesan, beserta tukang cukur.
Baca Juga: Hashim: MSCI Bukti 32,7 Juta Investor Tak Puas dengan Pasar Modal RI, Termasuk Saya
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Dinilai Makin Memburuk, 3 Masalah Ini Jadi Sorotan Para Ekonom
"Saya biasanya tukang rambut datang ke apartemen saya, sekali sebulan. Dia charge fee, upah, dan upah itu saya bayar tanpa kwitansi. Dan karena tanpa kwitansi, PPN 11% tidak dipungut," ungkap Hashim.
"Dan ternyata istri saya ada tukang pijet namanya Yanti, juga datang sekali dua minggu, kalau saya sekali sebulan. Yanti itu juga tidak berikan kwitansi dan tidak dipungut 11%. Berarti apa? Ternyata ada jutaan transaksi seperti itu," tutur dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: