Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jelang Pemilu Sela AS, Trump Disebut Ajak Sekutu Bersiap Serang Iran

        Jelang Pemilu Sela AS, Trump Disebut Ajak Sekutu Bersiap Serang Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat (AS) dilaporkan memperingatkan sejumlah sekutunya di Timur Tengah agar bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. 

        Washington juga mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Teheran yang dapat menyasar fasilitas energi dan infrastruktur strategis di kawasan.

        Dikutip dari Associated Press (AP), AS telah meminta negara-negara di kawasan meningkatkan langkah pencegahan. Operasi militer yang dipertimbangkan disebut berpotensi berlangsung selama beberapa hari dan memicu konfrontasi regional yang lebih luas.

        Meski demikian, Presiden AS Donald Trump dilaporkan belum mengambil keputusan akhir. Ia masih mempertimbangkan opsi militer setelah pemungutan suara pemilu paruh waktu selesai.

        Di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran masih membuka jalur diplomasi dan bersedia meninjau kembali proposal gencatan senjata yang sebelumnya diajukan.

        Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab juga menyerukan kebijaksanaan dan pengendalian diri untuk mencegah kembalinya operasi militer skala penuh.

        Sementara itu, laporan tersebut menyebut AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan, termasuk melalui pengerahan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke perairan Teluk Arab dan penempatan ribuan personel militer.

        Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga dilaporkan memecat Letnan Jenderal Brett Sylvia dari jabatannya sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan. Namun, laporan yang menjadi sumber berita ini tidak menjelaskan alasan pemecatan tersebut ataupun kaitannya dengan kemungkinan operasi terhadap Iran.

        Jika konflik kembali meningkat, fasilitas energi, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis di Timur Tengah berpotensi menghadapi risiko serangan balasan. Gangguan terhadap fasilitas tersebut juga dikhawatirkan berdampak pada stabilitas kawasan dan pasar energi global.

        Rencana kemungkinan serangan baru muncul di tengah tekanan ekonomi dan politik yang dihadapi pemerintahan Trump. Laporan tersebut menyebut pengeluaran terkait perang telah mencapai US$47,1 miliar.

        Kenaikan harga bensin juga disebut menambah tekanan terhadap pemerintah menjelang pemilihan paruh waktu.

        Sejumlah analis, menurut laporan tersebut, memperingatkan kemungkinan Iran melancarkan serangan pendahuluan sebelum pemilu jika para pemimpin Teheran menilai serangan AS tidak dapat dihindari. Namun, hal itu masih berupa kekhawatiran analis dan bukan konfirmasi bahwa Iran telah memutuskan melakukan serangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: