Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        MBG Terendus Bermasalah Lagi! BGN Ciduk 400 Rekening Ganda Berisi Rp414 Miliar

        MBG Terendus Bermasalah Lagi! BGN Ciduk 400 Rekening Ganda Berisi Rp414 Miliar Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap temuan ratusan rekening virtual ganda milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

        Tak tanggung-tanggung, rekening-rekening tersebut ternyata telah terisi dana dengan total mencapai Rp414 miliar, meski dapur terkait belum beroperasi.

        Sudaryono mengatakan temuan itu terungkap setelah dirinya menjabat sebagai Kepala BGN. Berdasarkan hasil pemeriksaan, terdapat sekitar 400 rekening virtual (virtual account/VA) ganda yang sudah berisi dana.

        "Setelah kami masuk, kami temukan ada sekitar 400-an sekian rekening, rekening VA (virtual account) itu double. Setelah dicek, ternyata ada isinya Rp414 miliar setelah ditotal," kata Sudaryono dalam agenda refleksi 100 hari kepemimpinannya di Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).

        Baca Juga: Eks Menag Yaqut Diragukan Terima Duit Korupsi Haji: Dia Gak Miskin

        Ia memastikan BGN telah menelusuri rekening-rekening tersebut dan mengembalikan seluruh dana yang ditemukan ke kas negara. Pasalnya, rekening itu sudah terisi uang meskipun dapur penyedia MBG belum menjalankan operasional.

        "Dapurnya belum beroperasi, rekeningnya sudah diisi. Nah, itu kemudian kami sisir, kami kembalikan ke kas negara Rp414 miliar," ujarnya.

        Tak hanya rekening ganda, Sudaryono juga menyoroti praktik sejumlah yayasan yang diduga sekadar menjadi perantara atau calo dalam pengelolaan dapur MBG. BGN, kata dia, akan menertibkan yayasan yang tidak memiliki kontribusi nyata dalam menjalankan program tersebut.

        Sudaryono menjelaskan, idealnya yayasan dimiliki dan dikelola oleh investor atau mitra yang membangun sekaligus mengoperasikan dapur SPPG. Namun, ia mengaku menemukan yayasan yang hanya mengisi titik lokasi layanan tanpa memiliki modal untuk membangun maupun menjalankan dapur.

        Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa yayasan-yayasan tersebut meminta potongan dana sebesar Rp500 hingga Rp1.500 untuk setiap ompreng atau porsi makanan yang disalurkan setiap hari.

        Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran Diwarnai Kritik, Jokowi: Yang Paling Penting...

        Untuk menggambarkan besarnya potensi keuntungan dari praktik tersebut, Sudaryono mencontohkan sebuah yayasan yang mengelola 500 dapur. Jika setiap dapur menyalurkan 2.000 porsi per hari dan yayasan mengambil potongan Rp1.000 per porsi, pendapatannya bisa mencapai Rp1 miliar dalam sehari.

        "Berarti Rp2 juta, satu hari, satu dapur, kali 500. Rp2 juta kali 500, Rp1 miliar pendapatan dia, nggak keringet, nggak modal, nggak ngawal-ngawal, cuma malak-malak saja," urai dia.

        Menurut Sudaryono, pemotongan dana semacam itu berisiko mengurangi anggaran yang semestinya digunakan untuk kebutuhan operasional dapur. Dampaknya, ketersediaan dana untuk menjaga kualitas makanan bagi para penerima manfaat MBG juga berpotensi terganggu.

        Karena itu, ia menegaskan BGN akan membersihkan pengelolaan program dari yayasan yang tidak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, tanpa memandang siapa pemiliknya.

        "Maka di era kita sekarang, itu kita bersihkan semua. Kita tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kita bersihkan semua," tutup Sudaryono.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: