Le Minerale Diserukan Boikot Gegara Logo Muncul di Aksi Mahasiswa, Ini Sosok Konglomerat Dibaliknya
Kredit Foto: Le Minerale
Seruan boikot terhadap Le Minerale ramai beredar di media sosial setelah logo merek air minum dalam kemasan tersebut terlihat dalam dokumentasi kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026. Polemik itu turut membawa perhatian publik kepada sosok Jogi Hendra Atmadja, pendiri Mayora Group yang berada di belakang bisnis Le Minerale.
Kontroversi bermula ketika logo Le Minerale terlihat pada water barrier atau pembatas jalan yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Kemunculan logo itu memicu dugaan bahwa perusahaan menjadi sponsor aksi yang berlangsung setelah demonstrasi mahasiswa pada 28 Oktober 2026.
Sejumlah warganet kemudian menyampaikan kekecewaan dan menyerukan boikot terhadap produk Le Minerale. Namun, perusahaan membantah keterlibatan dalam kegiatan tersebut.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram, Le Minerale menegaskan tidak menjadi sponsor, tidak terlibat dalam penyelenggaraan, serta tidak memberikan dukungan dalam bentuk apa pun terhadap aksi tersebut.
Perusahaan menjelaskan logo yang terlihat dalam video berada pada water barrier atau pembatas jalan yang berfungsi sebagai fasilitas pengaturan lalu lintas, bukan atribut sponsorship kegiatan.
Polemik ini membuat profil perusahaan dan pemilik merek Le Minerale ikut menjadi perhatian. Produk tersebut merupakan bagian dari portofolio bisnis Mayora Group, salah satu kelompok usaha makanan dan minuman besar di Indonesia.
Jogi Hendra Atmadja, Pendiri Mayora Group
Le Minerale diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, perusahaan yang berada di bawah naungan PT Mayora Indah Tbk. Mayora didirikan oleh Jogi Hendra Atmadja, pengusaha yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama perusahaan tersebut.
Berdasarkan informasi kepemilikan saham yang tercantum dalam bahan, Jogi memiliki sekitar 25,24% saham Mayora Indah. Kepemilikan tersebut menjadikannya pemegang saham terbesar di perusahaan.
Jogi lahir di Jakarta pada 1946. Meski menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, ia memilih membangun karier di dunia bisnis.
Jogi mendirikan Mayora Indah pada 17 Februari 1977 bersama Raden Soedigdo dan Darmawan Kurnia. Pada awalnya, perusahaan menyasar pasar Jakarta dan sekitarnya melalui produk makanan ringan, terutama biskuit Roma Kelapa.
Perjalanan bisnis Mayora kemudian berkembang melalui peluncuran berbagai merek makanan dan minuman. Pada era 1980-an, perusahaan memperkenalkan permen Kopiko yang kemudian menjadi salah satu produk andalannya.
Mayora memasuki pasar modal pada 1990 dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sejak itu, perusahaan memperluas bisnis ke berbagai kategori, mulai dari biskuit, permen, wafer, cokelat, makanan kesehatan, hingga minuman.
Le Minerale Jadi Bagian Ekspansi Bisnis Minuman
Ekspansi Mayora tidak berhenti pada produk makanan. Perusahaan juga mengembangkan portofolio minuman kemasan, termasuk Teh Pucuk Harum dan Le Minerale.
Kehadiran Le Minerale melalui PT Tirta Fresindo Jaya memperluas persaingan Mayora di industri air minum dalam kemasan (AMDK). Produk tersebut berhadapan dengan berbagai merek yang telah lebih dahulu mengisi pasar air mineral nasional.
Di sisi lain, Mayora memiliki portofolio merek yang dipasarkan di berbagai negara. Profil Forbes mengenai Jogi Hendra Atmadja dan keluarga juga mencatat bisnis keluarga tersebut menjual produk seperti Kopiko, Danisa, dan Roma di lebih dari 100 negara.
Dalam daftar Indonesia's 50 Richest versi Forbes 2025, Jogi Hendra Atmadja dan keluarga tercatat memiliki kekayaan bersih sekitar US$3,5 miliar atau berada di peringkat ke-24. Angka tersebut merupakan estimasi Forbes, bukan laporan kekayaan resmi perusahaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: