Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertamina Bidik 732 Desa Energi Berdikari hingga 2030

        Pertamina Bidik 732 Desa Energi Berdikari hingga 2030 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina (Persero) menargetkan pengembangan 732 Desa Energi Berdikari (DEB) di seluruh Indonesia hingga 2030. Program ini bertujuan mendorong kemandirian energi masyarakat melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya lokal untuk menggerakkan perekonomian desa secara berkelanjutan.

        Vice President CSR and SME Management PT Pertamina (Persero), Rudi Arifianto, mengatakan target tersebut menjadi bagian dari pengembangan program DEB yang telah menjangkau ratusan desa di berbagai wilayah Indonesia.

        “Nah pada perkembangannya tadi sempat di awal itu diceritakan 310. Kita sebenarnya sampai dengan tahun 2030 punya target 732 DEB di seluruh Indonesia,” ujar Rudi dalam acara DETALK bertajuk Desa Berdaya-Energi Terjaga yang dihelat secara virtual, Senin (2/11/2026).

        Pada 2026, Pertamina menargetkan pengembangan DEB mencapai 334 desa. Sementara itu, capaian program yang disebutkan Rudi telah mencapai 310 desa. Perusahaan juga membuka peluang untuk meningkatkan target apabila potensi pengembangan di lapangan memungkinkan.

        Dari total desa yang telah dikembangkan, sekitar 60% berada di luar Pulau Jawa. Pertamina memprioritaskan wilayah tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru, terutama di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses energi.

        Pengembangan DEB memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, biogas, mikrohidro, biodiesel, hingga pembangkit listrik hibrida. Total kapasitas energi terbarukan yang telah dikembangkan mencapai sekitar 1,5 megawatt-peak (MWp), dengan produksi biogas sekitar 900.000 meter kubik.

        Rudi mengatakan, program DEB juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat. Hingga saat ini, tambahan nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp26 miliar per tahun dan menjangkau sekitar 283.000 penerima manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

        “Secara kumulatif per tahun itu kita sudah memberikan additional value untuk masyarakat melalui penciptaan ekonomi kerakyatan itu sekitar 26 miliar,” jelasnya.

        Selain ekonomi, program DEB turut memperkuat ketahanan pangan. Dari 310 desa yang telah dikembangkan, sebanyak 166 desa berfokus pada sektor tersebut. Pengembangannya menghasilkan sekitar 21.000 ton beras dan 5.000 ton komoditas nonberas dari lahan sekitar 2.000 hektare dalam satu kali panen.

        Dampak program tersebut terlihat di Desa Keliki, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Sebelum mendapatkan dukungan pengairan melalui DEB, petani setempat hanya mampu panen satu kali dalam setahun. Kini, frekuensi panen meningkat menjadi tiga kali setahun dengan produktivitas mencapai 7 ton per hektare, dari sebelumnya 3–4 ton.

        Di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, program pemberdayaan masyarakat mendorong pemulihan hutan sekaligus membuka peluang ekonomi melalui peternakan, ekowisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

        Local hero Desa Tumpak, Burhanudin, mengatakan kelompok tani Pembina Lestari telah menanam sekitar 30.000 pohon di lahan seluas 136 hektare. Kegiatan tersebut turut menarik sekitar 800 wisatawan per tahun dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi 60 warga.

        “Sekarang sudah ada perputaran ekonomi yang terjadi baik dari kunjungan wisatawan, baik dari pembelian produk yang ada maupun dari penjualan-penjualan dari peternakan dan lain sebagainya,” ujar Burhanudin.

        Sementara itu, local hero Dusun Bondan, Mohamad Jamaludin, mengatakan program DEB telah membantu mengatasi keterbatasan listrik dan air bersih yang selama puluhan tahun dihadapi masyarakat Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

        Masyarakat memanfaatkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) untuk penerangan, pengembangan tambak, dan pengolahan air payau menjadi air bersih melalui sistem desalinasi. Program tersebut juga mendorong pemberdayaan kelompok perempuan melalui pengolahan hasil tambak serta pengembangan koperasi masyarakat.

        Baca Juga: Danantara Tutup Forum Inovasi Teknologi, Umumkan Kolaborasi Riset, Energi, dan hingga Infrastruktur Digital

        Baca Juga: Dari Dapur Warga untuk Energi Berkelanjutan: Pertamina dan Kementerian Koperasi Luncurkan Piloting Pengumpulan Minyak Jelantah

        “Alhamdulillah saat ini warga masyarakat Dusun Bondan sangat terbantu perihal pengadaan air bersih di lokasi. Jadi bisa mendapat sumber air bersih yang memang dari dusun ini,” kata Jamaludin.

        Untuk menjaga keberlanjutan program, Pertamina telah mensertifikasi 223 local hero sebagai Junior Operator yang memiliki kemampuan mengoperasikan dan menangani gangguan awal fasilitas energi terbarukan.

        Dari sisi lingkungan, program DEB telah berkontribusi mengurangi emisi sekitar 1,1 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Program tersebut juga mendukung pengolahan sekitar 145.000 ton sampah per tahun serta pemanfaatan lebih dari 23.000 ton kotoran hewan sebagai bahan baku biogas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: