Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dibobol Hacker Rp114 Triliun, Nasabah Binance Ramai-Ramai Tarik Dana Rp65,9 Triliun

        Dibobol Hacker Rp114 Triliun, Nasabah Binance Ramai-Ramai Tarik Dana Rp65,9 Triliun Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bursa kripto Binance menghadapi gelombang penarikan dana nasabah setelah kembali membuka layanan pada Minggu (1/11/2026). Tercatat, nasabah menarik dana bersih sebesar US$3,64 miliar atau setara Rp65,96 triliun setelah platform tersebut mengalami peretasan yang menyebabkan aset kripto senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114,2 triliun dicuri pada pekan sebelumnya.

        Melansir Reuters, Binance menyebut arus penarikan dana mulai menunjukkan stabilisasi setelah mengalami lonjakan pada tahap awal pembukaan kembali layanan. Meski demikian, perusahaan mengakui aktivitas penyetoran dana dari nasabah masih berlangsung dalam volume yang cukup besar.

        Binance menjelaskan, angka penarikan bersih sebesar US$3,64 miliar tersebut merupakan akumulasi dana yang ditarik dan disetorkan nasabah hingga pukul 15.30 GMT pada Minggu (1/11/2026).

        Namun, data platform analitik kripto DefiLlama menunjukkan angka arus keluar dana yang lebih besar. Berdasarkan data tersebut, penarikan dana dari Binance mencapai US$5,81 miliar atau sekitar Rp105,29 triliun, meningkat dari catatan sebelumnya sebesar US$4,36 miliar atau Rp79,02 triliun.

        Menanggapi perbedaan tersebut, Binance menyatakan perhitungan DefiLlama belum memperhitungkan arus dana yang telah dipindahkan perusahaan ke dompet panas (hot wallet) baru.

        Juru bicara Binance menilai angka yang ditampilkan platform analitik tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi arus dana sebenarnya. Perusahaan menyebut pembaruan terakhir yang disampaikan melalui platform X sebagai angka yang paling mendekati kondisi aktual, meskipun belum mencakup seluruh pergerakan dana setelah pembaruan dipublikasikan.

        Peneliti TRM Labs mencatat, penyerang mencuri aset kripto senilai US$2,9 miliar atau sekitar Rp52,57 triliun dalam hampir 150 insiden sepanjang tahun lalu.

        Di tengah penarikan dana nasabah, Binance mengklaim telah menyiapkan penggantian untuk menutup sekitar 95% dari total aset kripto senilai US$6,3 miliar yang dicuri dalam peretasan tersebut.

        Perusahaan menggunakan dana internal untuk membeli token pengganti guna menutupi kerugian pengguna. Sementara itu, sisa 5% aset yang belum sepenuhnya didukung terdiri atas token dengan tingkat likuiditas lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh dalam jumlah yang diperlukan.

        Baca Juga: Binance Diretas, Aset Kripto Rp114 Triliun Terkuras dalam 20 Menit

        Sebelumnya, Binance menyatakan akan menanggung seluruh dampak finansial dari insiden tersebut. Perusahaan telah mengalokasikan sekitar US$6,34 miliar atau setara Rp114,93 triliun dari berbagai sumber pendanaan untuk menutupi kerugian.

        Dana tersebut berasal dari beberapa pos, termasuk Secure Asset Fund for Users (SAFU) sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp18,13 triliun, sebagian dana Futures Insurance Fund, serta kas perusahaan.

        SAFU merupakan dana cadangan yang dimiliki Binance untuk memberikan perlindungan kepada pengguna apabila terjadi insiden keamanan pada platform.

        Co-CEO Binance Yi He mengatakan pada Sabtu (31/10/2026) bahwa perusahaan akan menggunakan 50% dari dana SAFU untuk mendukung proses penggantian aset yang dicuri. Binance juga berkomitmen mengisi kembali dana cadangan tersebut hingga mencapai sekitar US$1 miliar.

        Sementara itu, salah satu CEO Binance, Richard Teng, menyebut peretasan tersebut sebagai serangan kompleks yang melibatkan laptop yang telah diretas serta perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus jejak aktivitas penyerang.

        Kondisi tersebut membuat proses pelacakan aset dan investigasi serangan menjadi lebih sulit.

        Sebagai bagian dari pemulihan layanan, Binance mulai membuka kembali fitur penarikan dana secara bertahap dengan memprioritaskan permintaan pengguna. Pada tahap pertama, perusahaan membuka akses penarikan untuk 15 token, termasuk Bitcoin, Ethereum, stablecoin USDC dan USDT, serta Dogecoin.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: