Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Binance Diretas, Aset Kripto Rp114 Triliun Terkuras dalam 20 Menit

Binance Diretas, Aset Kripto Rp114 Triliun Terkuras dalam 20 Menit Kredit Foto: Binance
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peretasan terhadap Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, menyebabkan aset digital senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun terkuras. Serangan yang berlangsung sekitar 20 menit ini diduga memanfaatkan celah pada sistem yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi, sehingga peretas dapat memindahkan aset ke dompet yang mereka kendalikan.

Mengutip Reuters, insiden tersebut menjadi salah satu pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat. Kasus ini sekaligus menyoroti risiko keamanan pada infrastruktur bursa kripto, terutama sistem yang mengendalikan pemindahan dana.

Binance awalnya menduga serangan berkaitan dengan laptop yang telah disusupi. Namun, penyelidikan internal menemukan titik pelanggaran keamanan tambahan yang belum diungkapkan secara terperinci.

Dalam pernyataannya melalui platform X, Binance mengakui kompleksitas serangan tersebut. “Ini adalah serangan yang kompleks, dan kami melakukan segala upaya berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menyelesaikan masalah ini,” demikian pernyataan Binance yang dikutip Reuters.

Perusahaan analisis blockchain TRM Labs menduga peretas berhasil menyusupi infrastruktur penandatanganan transaksi atau signing infrastructure. Sistem ini berperan dalam memberikan otorisasi terhadap transaksi yang memindahkan aset dari dompet digital.

Joshua Chu, pengacara di Hong Kong yang menangani perkara aset kripto, menjelaskan celah tersebut dapat dipahami sebagai pembajakan sistem yang memberikan perintah untuk mengeluarkan dana dari tempat penyimpanannya.

“Penyerang mungkin tidak mencuri kunci brankas, tetapi membajak sistem yang memerintahkan brankas untuk mengeluarkan uang,” kata Chu, sebagaimana dikutip Reuters.

Setelah serangan terdeteksi, Binance berkoordinasi dengan sejumlah mitra industri untuk melacak dan membekukan aset yang terdampak. Reuters melaporkan sekitar US 3 miliar aset telah miliar telah berhasil ditemukan, sedangkan status asset senilai US 3,3 miliar belum dijelaskan secara terperinci oleh perusahaan.

Sejumlah penerbit aset kripto, termasuk Tether, Circle, Ripple, dan World Liberty Financial, turut membekukan sebagian aset yang terhubung dengan serangan tersebut. Langkah ini membatasi ruang gerak pelaku untuk memindahkan atau mencairkan aset, meskipun tidak menjamin seluruh dana dapat dikembalikan.

Co-CEO Binance Richard Teng menegaskan perusahaan akan menanggung kerugian akibat insiden tersebut. Binance juga menyatakan dana pengguna tetap aman dan menyiapkan pemulihan layanan penarikan setelah pemeriksaan keamanan dilakukan.

“Uang Anda aman dan kami menanggung setiap kerugian,” tulis Teng melalui akun X-nya.

Dugaan Keterlibatan Peretas Korea Utara

Sejumlah perusahaan analisis blockchain, termasuk TRM Labs dan Chainalysis, menilai serangan tersebut memiliki kemiripan dengan operasi peretasan yang sebelumnya dikaitkan dengan Korea Utara. Meski demikian, identitas pelaku belum dikonfirmasi oleh Binance.

TRM Labs menyebut pola serangan itu menyerupai peretasan bursa kripto Bybit pada 2025, yang oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dikaitkan dengan peretas Korea Utara.

Insiden ini turut mengguncang pasar aset digital. Harga bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu, sedangkan ether melemah lebih dari 3% sebelum pasar mulai stabil.

Aravind Srinivasan dari perusahaan perdagangan aset kripto GSR menilai besarnya pencurian tersebut menjadi pukulan serius bagi industri. “Ini adalah peretasan terbesar dalam sejarah,” ujarnya.

Kasus Binance kembali memperlihatkan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya bergantung pada perlindungan dompet digital, tetapi juga pada sistem yang mengotorisasi transaksi. Bagi investor, insiden ini menjadi pengingat bahwa risiko teknologi dan keamanan tetap menjadi faktor penting dalam penyimpanan aset digital.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra