Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Masuk Pengendali Baru, Pendapatan GPSO Naik 194,07%

        Masuk Pengendali Baru, Pendapatan GPSO Naik 194,07% Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kinerja perusahaan penyedia solusi geospasial dan industri, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) mulai menunjukkan peningkatan setelah masuknya pemegang saham pengendali baru, PT PIMSF Pulogadung yang merupakan bagian dari Tjokro Group.

        Hingga September 2026, GPSO mencatatkan penjualan neto sebesar Rp9,18 miliar. Angka tersebut melonjak 194,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,12 miliar, atau meningkat sekitar Rp6,06 miliar.

        Berdasarkan laporan keuangan interim yang dipublikasikan pada 30 Oktober 2026, peningkatan penjualan tersebut sebagian besar berasal dari transaksi dengan perusahaan yang memiliki hubungan afiliasi dengan Tjokro Group. Kontribusinya mencapai 85,96% dari total pendapatan GPSO.

        Beberapa perusahaan yang menjadi kontributor utama penjualan GPSO adalah PT Tjokro Bersaudara Sangattaindo sebesar Rp2,41 miliar atau 26,20% dari total penjualan, PT Morita Tjokro Gearindo Rp2,17 miliar atau 23,68%, serta PT Geoprima Sistem Indonesia Rp1,20 miliar atau 13,06%.

        Sementara itu, pelanggan pihak ketiga dan lainnya menyumbang sekitar Rp3,40 miliar.

        Kondisi ini berbeda dibandingkan sembilan bulan pertama 2025, ketika 56% penjualan GPSO masih ditopang oleh pihak ketiga, yakni PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) atau Harita, dengan kontribusi Rp1,76 miliar.

        Meski penjualan tumbuh hampir tiga kali lipat, kenaikan tersebut belum sepenuhnya berdampak positif terhadap profitabilitas perusahaan.

        Beban pokok penjualan GPSO justru melonjak 559,58% menjadi Rp8,03 miliar dari sebelumnya Rp1,22 miliar. Akibatnya, laba kotor perusahaan turun 39,62% menjadi Rp1,15 miliar, dibandingkan Rp1,90 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

        Di sisi lain, GPSO berhasil melakukan penghematan pada sejumlah beban operasional. Beban penjualan turun 44,98% menjadi Rp263,86 juta dari Rp479,63 juta.

        Beban umum dan administrasi juga berhasil ditekan 41,28% menjadi Rp3,23 miliar dari sebelumnya Rp5,51 miliar.

        Efisiensi tersebut membantu mengurangi rugi usaha GPSO sebesar 42,49%. Jika pada sembilan bulan pertama 2025 perusahaan mencatatkan rugi operasi Rp4,08 miliar, pada periode yang sama tahun ini kerugiannya menyusut menjadi Rp2,35 miliar.

        Perbaikan juga terlihat pada kinerja di luar operasional. GPSO mencatatkan pendapatan lain-lain sebesar Rp610,37 juta, berbalik dari beban lain-lain Rp42,11 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

        Salah satu penyumbangnya adalah pemulihan penyisihan penurunan nilai piutang sebesar Rp689,34 juta.

        Dengan tidak adanya pencatatan beban pajak kini maupun pajak tangguhan, rugi sebelum pajak, rugi tahun berjalan, dan rugi komprehensif perusahaan masing-masing tercatat sebesar Rp1,74 miliar.

        Jumlah tersebut membaik 57,88% dibandingkan rugi bersih Rp4,13 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Rugi per saham dasar juga menyusut menjadi Rp2,61 per saham dari sebelumnya Rp6,19 per saham.

        Modal GPSO Menguat Usai Suntikan Pengendali Baru

        Dari sisi neraca keuangan, GPSO juga mencatatkan pertumbuhan aset dan ekuitas yang cukup besar.

        Per 30 September 2026, kas dan setara kas perusahaan mencapai Rp1,43 miliar, naik 71,63% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp833,69 juta.

        Total aset meningkat 62,76% menjadi Rp79,58 miliar dari Rp48,89 miliar. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh bertambahnya uang muka dan beban dibayar di muka yang mencapai Rp29,35 miliar, serta peningkatan piutang usaha kepada pihak berelasi.

        Sementara itu, total liabilitas naik 63,59% menjadi Rp10,17 miliar dari Rp6,22 miliar. Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya utang usaha dan utang lain-lain kepada pihak berelasi untuk mendukung kebutuhan operasional.

        Adapun total ekuitas tumbuh 62,64% menjadi Rp69,41 miliar dari sebelumnya Rp42,67 miliar.

        Penguatan ekuitas tersebut tidak terlepas dari penambahan modal disetor dan penerimaan uang muka setoran modal sebesar Rp25,14 miliar dari PT PIMSF Pulogadung pada September 2026. Suntikan dana ini menjadi salah satu bentuk dukungan pengendali baru terhadap penguatan permodalan dan rencana ekspansi GPSO.

        Baca Juga: Usai Private Placement, GPSO Bidik Bisnis Manufaktur Terpadu

        Baca Juga: Laba BSDE Anjlok 38% Jadi Rp844,7 Miliar, Segmen Residensial Jadi Biang Kerok

        Dalam laporan keuangan interimnya, manajemen GPSO juga menegaskan komitmen terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan transparansi informasi kepada investor.

        Melalui surat pernyataan Direksi tertanggal 26 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Dionysius Tjokro dan Direktur Axel Tobias Joel, manajemen menyatakan bertanggung jawab penuh atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan per 30 September 2026.

        Laporan tersebut telah disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia. 

        Manajemen juga menyatakan bahwa informasi yang disajikan telah lengkap dan benar, tidak mengandung fakta material yang menyesatkan, serta tidak menghilangkan informasi penting yang dapat memengaruhi keputusan investor.

        "Perusahaan menjaga efektivitas pengendalian internal untuk melindungi aset dan mendukung keberlanjutan operasional setelah konsolidasi bisnis dengan Tjokro Group," ungkap Manajemen GPSO.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: