Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Laba BSDE Anjlok 38% Jadi Rp844,7 Miliar, Segmen Residensial Jadi Biang Kerok

Laba BSDE Anjlok 38% Jadi Rp844,7 Miliar, Segmen Residensial Jadi Biang Kerok Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kinerja PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), emiten properti Grup Sinar Mas, mengalami tekanan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Laba bersih perseroan merosot 38% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp844,70 miliar dari sebelumnya Rp1,36 triliun. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya pendapatan dari segmen residensial.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba periode berjalan secara konsolidasian juga turun 32,4% menjadi Rp995,10 miliar dari Rp1,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur BSDE, Hermawan, mengungkapkan bahwa pendapatan usaha perseroan hingga September 2026 mencapai Rp7,54 triliun, turun 14% dibandingkan Rp8,76 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Realisasi ini turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,76 triliun," ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (2/11/2026).

Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba kotor BSDE terkoreksi 9% menjadi Rp5,03 triliun dari Rp5,55 triliun. Sementara itu, laba usaha turun 20% menjadi Rp1,71 triliun dari sebelumnya Rp2,13 triliun.

Tekanan terbesar berasal dari segmen residensial yang hanya membukukan pendapatan Rp2,36 triliun, anjlok 30% dibandingkan Rp3,37 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Padahal, segmen pengembangan properti yang mencakup residensial, penjualan tanah, dan komersial masih menyumbang sekitar 80% dari total pendapatan BSDE.

Di tengah pelemahan tersebut, segmen komersial justru tumbuh 21% menjadi Rp2,73 triliun dari Rp2,26 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang penjualan rumah toko (ruko) yang meningkat 37% menjadi Rp2,28 triliun dari Rp1,67 triliun.

Pendapatan berulang (recurring revenue) juga tumbuh 19% menjadi Rp1,53 triliun dari Rp1,29 triliun. Di dalamnya, pendapatan sewa naik 19% menjadi Rp909 miliar, terdiri atas sewa ruang perkantoran sebesar Rp467 miliar (tumbuh 15%) serta sewa mal dan lainnya sebesar Rp442 miliar (naik 22%).

Kontribusi positif lainnya datang dari bisnis jalan tol. Pendapatan operasional jalan tol meningkat 20% menjadi Rp90 miliar, seiring bertambahnya volume kendaraan di Tol Serpong-Balaraja dan mulai beroperasinya tambahan ruas Seksi 1B.

Meski kinerja tahunan masih tertekan, BSDE mulai mencatatkan perbaikan secara kuartalan. Pada kuartal III/2026, pendapatan usaha mencapai Rp2,79 triliun, naik 17% dibandingkan Rp2,38 triliun pada kuartal sebelumnya.

Margin laba kotor tercatat sebesar 67%, meningkat dari 63% pada kuartal III-2025. Namun, margin laba usaha sedikit turun menjadi 23% dari sebelumnya 24%.

Perseroan juga melakukan efisiensi dengan memangkas beban umum dan administrasi sebesar 7% secara tahunan, terutama melalui penghematan biaya teknologi informasi. Beban pajak final turun 20%, sedangkan beban penjualan meningkat 7%.

Baca Juga: Laba PT Timah Meroket 584% pada Kuartal III/2026, Tembus Rp4,12 Triliun

Baca Juga: SIG Kantongi Laba Rp532 Miliar per September, Penjualan Semen Domestik Tumbuh 4,2%

Baca Juga: Laba AMMN Melonjak Jadi US$880 Juta, Produksi Emas Naik 616%

Dari sisi neraca, total aset BSDE per September 2026 mencapai Rp81,45 triliun, naik 3% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp79,27 triliun. Liabilitas meningkat 6% menjadi Rp28,18 triliun, sementara ekuitas tumbuh 1% menjadi Rp53,26 triliun.

Untuk mendukung pengembangan bisnis, BSDE telah merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp4,70 triliun hingga kuartal III-2026. Sebagian besar digunakan untuk pembebasan lahan senilai Rp3,43 triliun. Sisanya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur Rp767 miliar, properti investasi Rp259 miliar, dan konsesi jalan tol Rp244 miliar.

BSDE Kejar Marketing Sales Rp10 triliun

Di tengah penurunan laba, BSDE tetap optimistis mencapai target prapenjualan (marketing sales) sebesar Rp10 triliun pada 2026. Hingga September, realisasinya telah mencapai sekitar 75% atau setara Rp7,5 triliun.

Perseroan mengandalkan peluncuran produk baru, promosi berkelanjutan, perluasan jaringan pemasaran, serta insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk mengejar target tersebut.

Pada sisa tahun ini, BSDE akan mengoptimalkan pemasaran dan pengembangan produk di berbagai kawasan sekaligus menjaga pengelolaan keuangan secara hati-hati guna mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan