Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan ditutup menguat 0,79% atau naik 38,78 poin ke level 5.096,83 pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat tertekan dan bergerak di zona merah pada awal perdagangan.
Saat pembukaan, IHSG berada di level 5.039,54. Tekanan jual kemudian membuat indeks semakin melemah hingga menyentuh titik terendah 4.981,51. Namun, IHSG berhasil berbalik arah dan melesat ke zona hijau hingga akhir perdagangan.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di kisaran 4.981,51–5.125,73. Penguatan indeks juga didukung oleh lebih banyak saham yang mencatatkan kenaikan.
Tercatat sebanyak 315 saham ditutup menguat, sementara 285 saham melemah dan 118 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga cukup ramai. Total volume perdagangan mencapai 35,14 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp12,09 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,44 juta kali.
IHSG Masih Tertekan di Sepanjang Pekan Ini
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini. Secara teknikal, indeks masih berada dalam tren bearish setelah ditutup di bawah indikator Moving Average 3 (MA3), dengan koreksi mingguan mencapai 7,03%.
Dia mengaku, kondisi tersebut menunjukkan momentum jual masih cukup dominan. Sementara itu, sinyal pemulihan tren jangka pendek juga belum terkonfirmasi.
"Dalam skenario terbaik (best case), IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada rentang 5.000–5.200 sepanjang pekan ini, dengan catatan indeks mampu mempertahankan penutupan di atas level psikologis 5.000," kata dia dalam risetnya, senin (2/11/2026).
Namun, investor perlu mewaspadai potensi pelemahan lanjutan apabila tekanan jual kembali meningkat. Jika IHSG ditutup menembus ke bawah 5.000, indeks berisiko menguji area 4.900–5.000.
Bahkan, dalam skenario terburuk (worst case), tekanan jual yang berlanjut dapat membawa IHSG menuju area koreksi berikutnya di kisaran 4.763–4.845.
Selain faktor teknikal, pergerakan IHSG pekan ini juga akan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis data Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 (3Q26), cadangan devisa, hingga indeks harga rumah.
Berbagai data tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi dan prospek perekonomian Indonesia.
Baca Juga: Saham HSC Masih Muncul di IHSG, BEI Ungkap Penyebabnya
Baca Juga: BEI Depak 81 Saham dari IHSG Mulai Hari Ini, Bobotnya 18%
Sementara dari eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat (midterm election) yang berlangsung pada 3 November 2026. Hasil pemilu tersebut menjadi salah satu sentimen yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan dan dinamika pasar keuangan global.
Di tengah ketidakpastian pasar, investor perlu memperhatikan sejumlah level teknikal sebagai acuan dalam menentukan strategi investasi.
Secara teknikal, area support IHSG berada di rentang 4.915–5.012. Sementara itu, area resistance berada pada kisaran 5.328–5.460.
Kemampuan IHSG mempertahankan level 5.000 menjadi salah satu faktor krusial untuk menentukan arah pergerakan indeks selanjutnya.
"Selama mampu bertahan di atas 5.000, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi. Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," ungkap dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: