Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diserang dari Berbagai Arah, Gibran Masih Punya Modal Politik untuk 2029

        Diserang dari Berbagai Arah, Gibran Masih Punya Modal Politik untuk 2029 Kredit Foto: Antara/Muhammad Iqbal
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih masuk dalam peta persaingan elektoral menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, meskipun berbagai kritik dan polemik terus mengiringi perjalanan politiknya.

        Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, menilai posisi Gibran tetap diperhitungkan karena memiliki modal politik sebagai salah satu figur yang berada di lingkar inti pemerintahan. Menurutnya, elite politik tidak hanya mempertimbangkan kekuasaan yang dimiliki seorang tokoh saat ini, tetapi juga peluangnya dalam konfigurasi politik berikutnya.

        Dalam opininya di Bisnis Indonesia, Kamis (29/10/2026), Chamad menjelaskan bahwa posisi Gibran sebagai wakil presiden pada usia relatif muda memberinya kesempatan membangun rekam jejak kepemimpinan sekaligus menjaga relevansi politik dalam jangka panjang.

        Sejumlah survei elektabilitas turut memperlihatkan bahwa nama Gibran masih masuk dalam simulasi kandidat Pilpres 2029. Namun, tingkat dukungannya berbeda bergantung pada posisi pencalonan dan skenario yang digunakan masing-masing lembaga survei.

        Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1–10 Oktober 2026 menempatkan Gibran di posisi keempat dalam simulasi semi-terbuka calon presiden dengan elektabilitas 8,4%.

        Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil survei SMRC pada November 2025 sebesar 5,1%, Februari–Maret 2026 sebesar 6,8%, dan Juli 2026 sebesar 7,7%.

        Sementara itu, dalam simulasi calon wakil presiden, Gibran mencatat angka lebih tinggi. Survei Median pada 21 Juli–2 Agustus 2026 mencatat elektabilitas Gibran sebesar 20,1%. Angka tersebut berada di atas Agus Harimurti Yudhoyono sebesar 13,5% dan Dedi Mulyadi sebesar 11,2%.

        Hasil serupa terlihat dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dipaparkan pada Oktober 2026. Dalam simulasi calon wakil presiden, Gibran memperoleh elektabilitas 14,2%, berada di bawah Dedi Mulyadi yang mencapai 21%.

        Perbedaan hasil tersebut memperlihatkan bahwa posisi elektoral Gibran tidak bisa dilepaskan dari konteks simulasi yang digunakan. Dukungan terhadapnya dalam bursa calon wakil presiden tercatat lebih tinggi dibandingkan ketika namanya diuji sebagai calon presiden.

        Baca Juga: Prof Denny Indrayana Jelaskan Alasan Konstitusional Kenapa Prabowo Tidak Bisa Terseret Arus Pemakzulan Gibran

        Baca Juga: Relawan Gibran Anggap Remeh Putusan MA: Itu Cuma Administrasi Biasa

        Chamad juga menyoroti dinamika kritik terhadap Gibran di media sosial. Menurutnya, tingginya intensitas kritik di ruang digital belum tentu mencerminkan preferensi mayoritas pemilih nasional.

        Bahkan, dalam kondisi tertentu, pemberitaan negatif dan serangan politik dapat meningkatkan tingkat pengenalan publik terhadap seorang figur. Meski demikian, peningkatan popularitas tidak otomatis berbanding lurus dengan kenaikan dukungan elektoral.

        Tantangan bagi Gibran, menurut Chamad, adalah mengubah modal politik dan tingkat pengenalan publik menjadi kepercayaan masyarakat yang berkelanjutan.

        Jabatan wakil presiden memberikan ruang bagi Gibran untuk menunjukkan kapasitas melalui kinerja pemerintahan, konsistensi kebijakan, dan akuntabilitas. Faktor-faktor tersebut dinilai akan berpengaruh terhadap keberlanjutan dukungan publik menjelang kontestasi politik berikutnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: