Iran dalam Bahaya! Trump dan Netanyahu Bahas Rencana Serangan Militer Baru
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhir pekan. Percakapan tersebut membahas perkembangan konflik dengan Iran serta kemungkinan dilanjutkannya operasi militer terhadap Teheran.
Dalam pembicaraan itu, Netanyahu dilaporkan mendesak Trump agar kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan umum sela AS pada 3 November 2026. Namun, Trump disebut masih ingin memberikan kesempatan kepada jalur diplomasi untuk menghasilkan kesepakatan dengan Teheran.
Dikutip dari laporan Axios, Minggu (1/11/2026), percakapan kedua pemimpin berlangsung cukup serius. Sumber dari Israel menggambarkannya sebagai pembicaraan yang keras, sementara sumber dari AS menyebut komunikasi tersebut berlangsung secara langsung.
Pada Minggu (1/11/2026), Trump mengonfirmasi telah berbicara dengan Netanyahu. Ia menyebut percakapan tersebut berlangsung sangat baik dan membenarkan bahwa Iran menjadi salah satu topik pembahasan. Meski demikian, Trump tidak mengungkapkan secara terperinci hasil komunikasi tersebut.
Baca Juga: Sidang Febrie Adriansyah Hadirkan Ferry Boboho dan Tan Kian, Jaksa Siapkan 103 Saksi
Trump sebelumnya juga menyampaikan keinginannya untuk menargetkan satu atau dua fasilitas nuklir Iran yang masih tersisa, termasuk kawasan Gunung Pickaxe. Ia mengklaim militer AS mampu melancarkan serangan terhadap lokasi tersebut dalam waktu sekitar 10 menit.
Menurut Trump, Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Namun, ia meragukan komitmen Teheran karena menilai negara tersebut kerap mengingkari kesepakatan sebelumnya.
Sebelum menghubungi Netanyahu, Trump dilaporkan telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat militer AS, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper, dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan serangan lanjutan beserta risiko yang dapat ditimbulkan. Namun, Trump meminta militer AS menunda operasi hingga pemilihan umum sela pada 3 November selesai dilaksanakan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomatik melalui Qatar masih berlangsung. Para mediator berupaya mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran guna mencegah pecahnya kembali konflik bersenjata.
Namun, Iran memperingatkan akan memberikan respons kuat, segera, dan menyeluruh apabila kembali diserang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa negaranya tetap membuka peluang diplomasi, tetapi siap menghadapi kemungkinan agresi militer.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: