Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Barang Berpotensi Makin Mahal

        Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Barang Berpotensi Makin Mahal Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperingatkan pelemahan nilai tukar rupiah berisiko meningkatkan biaya impor berbagai komoditas, mulai dari energi, bahan baku industri, pangan, hingga pupuk. Kenaikan biaya di tingkat hulu tersebut berpotensi diteruskan ke konsumen jika tekanan kurs berlanjut.

        Dalam laporan berjudul Daya Beli di Persimpangan: Antara Inflasi, Upah, dan Tekanan Rumah Tangga edisi Oktober 2026, INDEF mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencapai Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 19 Oktober 2026.

        “Dampak kenaikan kurs tidak berhenti pada minyak, tetapi merambat ke hampir semua komoditas impor,” tulis laporan INDEF, Senin (2/11/2026).

        Pada September 2026, rata-rata JISDOR tercatat sebesar Rp17.749 per dolar AS atau melemah 7,4% secara tahunan. Sementara itu, pelemahan kurs sebesar 9% dalam periode September 2025 hingga Juli 2026 disebut menambah sekitar 9 poin persentase pada harga rupiah setiap komoditas impor.

        INDEF menilai tekanan tersebut berpotensi semakin besar karena bahan bakar mineral dan produk turunannya merupakan kelompok impor terbesar Indonesia pada 2025, dengan nilai mencapai US$36,8 miliar.

        Dampak kenaikan biaya impor mulai terlihat pada sejumlah komoditas, meskipun belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. INDEF mencatat biaya gula di tingkat hulu meningkat 25,8% secara tahunan, sedangkan harga ecerannya hanya naik 3,6%.

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp18.156 per USD

        Baca Juga: Gubernur BI Blak-blakan, Rupiah Punya PR Besar di Sektor Ekspor dan Investasi

        Kondisi serupa terjadi pada terigu dan kedelai. Biaya terigu meningkat 20,59%, tetapi harga konsumen hanya bertambah 0,6%. Sementara itu, biaya kedelai naik 20,55%, sedangkan harga ecerannya justru turun 1,5%.

        Tekanan harga juga terlihat pada komoditas minyak goreng. INDEF mencatat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dalam rupiah meningkat 22,2% secara tahunan, diikuti kenaikan harga minyak goreng kemasan sebesar 7,2%.

        “Akibatnya, kenaikan biaya lebih banyak ditanggung rantai pasok dan berisiko diteruskan ke konsumen bila tekanan berlanjut,” tulis INDEF.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: