Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok 2,62% ke level 4.963,06 pada perdagangan Selasa (3/11/2026) hingga sesi I. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang Rp831,55 miliar.
Berdasarkan data KISI Foreign Lens dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia, nilai jual asing mencapai Rp2,44 triliun pada perdagangan tengah hari. Sementara itu, nilai beli tercatat Rp1,61 triliun.
Aktivitas perdagangan saham juga terpantau cukup ramai di tengah tekanan pasar. Berdasarkan data OHLC, nilai transaksi tercatat mencapai Rp5,575 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 14,52 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 811.000 kali.
Tekanan jual terlihat dari dominasi saham yang melemah. Sebanyak 633 saham bergerak di zona merah, sedangkan hanya 113 saham menguat dan 217 saham stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Dengan demikian, mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada dalam tekanan jual pada perdagangan tengah hari tersebut.
Sejumlah saham menjadi sasaran aksi jual investor asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan nilai penjualan asing terbesar, yakni 173,45 juta dalam satuan yang ditampilkan pada data KISI, dengan angka net sell62,51 juta saham.
Saham lain yang masuk daftar teratas penjualan asing antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan net sell 50,44 juta saham, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebanyak 27,09 juta saham, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 26,39 juta saham, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 481,70 juta saham.
Di sisi lain, investor asing masih membukukan pembelian pada sejumlah saham. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memimpin daftar pembelian dengan net buy 36,72 juta saham. Berikutnya terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebanyak 7,58 juta saham dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebanyak 5,12 juta saham.
Tekanan jual tersebut sejalan dengan pelemahan IHSG yang berbalik arah setelah sempat dibuka menguat. Pada awal perdagangan, indeks naik 0,58% ke level 5.126,53 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 5.143,58.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. IHSG kemudian bergerak melemah hingga menyentuh level terendah 4.950,55 sebelum berada di posisi 4.963,06 pada pukul 12.26 WIB. Angka tersebut turun 133,77 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.096,83.
Tekanan terhadap pasar saham domestik masih dibayangi kekhawatiran investor terkait evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Salah satu isu yang dicermati pelaku pasar adalah potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi standalone market.
Selain itu, investor turut mencermati kebijakan BEI yang mulai mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat terdapat 81 saham dalam kategori tersebut yang sebelumnya memiliki bobot gabungan sekitar 18% terhadap indeks. Meski demikian, penyesuaian komposisi tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab langsung pelemahan IHSG.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: