Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Program Desa Energi Berdikari Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi Rp26 M per Tahun

        Program Desa Energi Berdikari Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi Rp26 M per Tahun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina (Persero) mencatat nilai tambah ekonomi sekitar Rp26 miliar per tahun melalui program Desa Energi Berdikari (DEB). Program yang mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan dan pemberdayaan masyarakat tersebut telah menjangkau sekitar 283.000 orang di berbagai wilayah Indonesia.

        Hingga 2026, Pertamina telah mengembangkan sekitar 310 Desa Energi Berdikari. Perusahaan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 732 desa pada 2030. Sekitar 60% desa yang telah dikembangkan berada di luar Pulau Jawa.

        VP CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto mengatakan, program DEB tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur energi terbarukan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal.

        "Ujungnya adalah kita harus mendengar. Tahapan pertama dari delapan pilar CID adalah saling berdiskusi secara mendalam. Melalui social mapping, kita mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan, kekurangan, dan harapan masyarakat," kata Rudi dalam acara DETalk: Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan, Senin (2/11/2026).

        Program DEB memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan sesuai potensi masing-masing wilayah, mulai dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel, hingga pembangkit listrik hibrida.

        Dari pengembangan tersebut, kapasitas pembangkitan energi terbarukan DEB telah mencapai sekitar 1,5 MWp. Program ini juga menghasilkan produksi biogas sekitar 973.000 meter kubik. Selain itu, sebanyak 223 local hero telah memperoleh sertifikasi kompetensi sebagai Junior Operator untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas energi terbarukan.

        Dari sisi lingkungan, program DEB berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 1,1 juta ton CO2 ekuivalen. Pertamina juga mencatat pengelolaan sekitar 145.000 ton sampah per tahun serta pemanfaatan lebih dari 23.000 ton kotoran hewan untuk pengembangan energi biogas.

        Sementara dari sisi ketahanan pangan, sebanyak 166 desa telah mengembangkan program berbasis pertanian dan pangan. Pengembangan tersebut menghasilkan sekitar 21.000 ton beras dan 5.000 ton komoditas pangan nonberas dalam satu kali panen dari sekitar 2.000 hektare lahan.

        Rudi mengatakan, keberhasilan program tidak hanya diukur berdasarkan jumlah pembangkit energi terbarukan yang dibangun atau besarnya pengurangan emisi, tetapi juga dari peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat.

        "Yang paling penting adalah bagaimana pengembangan DEB benar-benar berdampak signifikan kepada masyarakat. Petani bisa meningkatkan kapasitas produksinya, UMKM mendapatkan tambahan pendapatan, dan berbagai aktivitas ekonomi bisa berjalan dengan baik hingga masyarakat mampu mencukupi kebutuhannya," ujarnya.

        Salah satu implementasi program tersebut terlihat di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Burhanudin, local hero Desa Tumpak, menginisiasi pemulihan lingkungan melalui pendekatan agroforestri setelah mendapati kerusakan kawasan hutan di kampung halamannya akibat deforestasi dan perubahan pola tanam.

        Bersama masyarakat, Burhanudin telah menanam sekitar 30.000 pohon di kawasan seluas 96 hektare. Penanaman tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan fungsi ekologis hutan, tetapi juga menyediakan pakan ternak, buah-buahan, dan mengembangkan potensi ekowisata.

        Inisiatif tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat melalui peternakan, ekowisata, serta pengembangan produk UMKM berbahan dasar kelapa, seperti cocopeat, coconut oil, dan briket.

        Kini, Desa Tumpak mampu menarik sekitar 800 wisatawan per tahun, mayoritas wisatawan mancanegara. Aktivitas tersebut menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun dan membuka kesempatan kerja bagi sekitar 60 warga.

        "Apapun yang terjadi, kampung ini harus kita kembalikan, walaupun kita harus siram dengan keringat dan air mata," kata Burhanudin.

        Dampak pemanfaatan energi terbarukan juga dirasakan masyarakat Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

        Jamaludin, local hero Dusun Bondan, mengatakan masyarakat sebelumnya belum menikmati akses listrik hingga 2017. Warga masih mengandalkan lampu minyak untuk penerangan. Keterbatasan juga terjadi pada akses air bersih karena sumber air di wilayah tersebut merupakan air payau.

        Kondisi tersebut mulai berubah setelah hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) melalui inisiatif Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap.

        Listrik dari pembangkit tersebut tidak hanya digunakan untuk penerangan, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui penggunaan aerator pada tambak ikan untuk meningkatkan produktivitas budidaya.

        Selain itu, masyarakat memanfaatkan listrik untuk mengoperasikan sistem desalinasi guna mengolah air laut menjadi air tawar.

        "Kami tidak hanya menggunakan pembangkit listrik ini untuk penerangan. Kami terus berupaya melakukan inovasi untuk membantu kebutuhan masyarakat," ujar Jamaludin.

        Baca Juga: Pertamina Group dan doctorSHARE Hadirkan Rumah Sakit Kapal di Maluku

        Baca Juga: Pertamina Catat 62 Desa Energi Berdikari Berhasil Mandiri

        Masyarakat juga mendapatkan pelatihan pengolahan hasil tambak, khususnya bagi kelompok perempuan. Melalui kegiatan tersebut, hasil perikanan yang sebelumnya dijual sebagai bahan baku mulai diolah menjadi produk dengan nilai tambah.

        Untuk menjaga keberlanjutan fasilitas dan kegiatan ekonomi, masyarakat membentuk Koperasi Konsumen Bondan Sukses Sejahtera. Koperasi tersebut mengelola program pemberdayaan sekaligus menghimpun iuran Rp25.000 per kepala keluarga setiap bulan untuk mendukung operasional dan pemeliharaan PLTH.

        Jamaludin menilai penguatan kelembagaan dan kompetensi masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.

        "Membangun itu mudah, tetapi menjaganya yang sulit. Karena itu, kita harus menyiapkan orang-orang yang berkompeten dan memiliki dedikasi untuk menjaga keberlanjutan program," katanya.

        Pertamina pun mendorong penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat melalui koperasi maupun badan usaha. Langkah tersebut diiringi peningkatan kompetensi local hero agar masyarakat mampu mengoperasikan dan memelihara fasilitas energi terbarukan secara mandiri.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: