Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (4/11/2026) di zona merah. Indeks dibuka di level 4.856,96, kemudian terus melemah hingga menyentuh posisi terendah 4.824,36.
Tekanan jual terlihat dari dominasi saham yang melemah. Sebanyak 423 saham bergerak turun, sementara hanya 73 saham menguat dan 111 saham lainnya stagnan.
Hingga data perdagangan tersebut dihimpun, volume transaksi tercatat sekitar 1,56 miliar saham dengan nilai Rp449,32 miliar dan frekuensi 58.866 kali.
Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian global dan domestik. Phintraco Sekuritas memperingatkan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi apabila level support 4.900 gagal dipertahankan. Dalam riset hariannya pada Rabu (4/11/2026), Phintraco memperkirakan indeks dapat menguji area 4.650–4.750 jika tekanan jual berlanjut.
Ketidakpastian Global dan Domestik Membayangi Pasar
Dari eksternal, bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Investor mulai kembali membeli saham-saham teknologi berkapitalisasi besar setelah sebelumnya mengalami tekanan. Namun, pasar masih mencermati perkembangan politik AS, terutama pemilihan umum paruh waktu atau midterm election.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 5,4%–5,5%. Di sisi lain, pemerintah memastikan tidak akan memberlakukan skema pungutan pajak baru pada 9 November 2026.
"Di sisi lain, pemerintah memberikan kepastian terkait kebijakan perpajakan. Menteri Keuangan menegaskan tidak akan ada skema pungutan pajak baru yang diberlakukan pada 9 November 2026," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Baca Juga: IHSG Dibayangi Ketidakpastian Global dan Domestik, Waspadai Potensi Koreksi ke 4.650
Baca Juga: Kemenkeu Ogah Jadi Pemilik Saham BEI, Ini Alasannya
Pemerintah juga tengah menyiapkan perubahan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Kebijakan ini menjadi salah satu hal yang dicermati investor karena berkaitan dengan pengelolaan devisa dari kegiatan ekspor.
Sentimen pasar turut dipengaruhi pergerakan komoditas dan obligasi global. Harga minyak turun pada Selasa (3/11/2026), didorong harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury yield) naik lebih dari 6 basis poin ke level 4,96%.
Di pasar logam mulia, harga emas spot juga melemah 0,5% ke US$3.927 per troy ounce. Pergerakan sejumlah instrumen global tersebut menjadi perhatian investor dalam menentukan arah investasi di tengah ketidakpastian pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan