Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menilai bahwa perlu memperkuat sumber devisa di luar pasar keuangan untuk menghadapi dinamika nilai tukar rupiah. Ia percaya dengan Sektor pariwisata hingga kontribusi pekerja migran Indonesia dinilai menjadi bagian dari sumber devisa yang perlu terus diperkuat.
“Bahwa Indonesia juga memiliki sejumlah sumber devisa yang perlu terus diperkuat, antara lain sektor pariwisata hingga kontribusi pekerja migran Indonesia. Penguatan sumber-sumber devisa tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan eksternal di tengah dinamika perekonomian global,” ujar Drajad dalam keterangan resmi, Rabu (4/11/2026).
Ia menyinggung sejumlah prediksi pelemahan rupiah yang sebelumnya memperkirakan nilai tukar menembus Rp20.000 per dolar AS pada Oktober 2025 dan Rp25.000 per dolar AS pada semester I 2026.
“Namun, kedua prediksi tersebut tidak menjadi kenyataan,” tepis Drajad.
Kendati demikian, Dradjad meminta tidak lengah, penilaian terhadap kondisi rupiah perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi perekonomian Indonesia. Karena itu, penguatan sumber devisa menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global.
Sektor pariwisata dan kontribusi pekerja migran Indonesia menjadi dua sumber yang disorot pemerintah. Penerimaan dari kunjungan wisatawan mancanegara serta aliran pendapatan pekerja migran dari luar negeri berpotensi mendukung pasokan valuta asing bagi perekonomian domestik.
Penguatan sumber devisa tersebut juga penting untuk memperluas penopang ketahanan eksternal Indonesia, sehingga tidak hanya bergantung pada pergerakan modal asing di pasar keuangan. Meski demikian, besarnya kontribusi kedua sektor tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan data penerimaan devisa yang tersedia.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki bantalan cadangan devisa untuk menghadapi tekanan eksternal. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 mencapai US$146, 3 miliar,sedikit turun dari US$146,5 miliar pada Agustus 2026.
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp18.168, Pasar Cermati Penurunan Proyeksi Ekonomi
Baca Juga: Wamenko Drajad Minta Investor Serok Saham saat Harga Jeblok
Cadangan devisa tersebut, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
BI menilai, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Namun, kecukupan cadangan devisa tidak dengan sendirinya menjamin rupiah akan menguat, karena nilai tukar juga dipengaruhi kondisi pasar keuangan global dan arus modal.
Dradjad juga menekankan pentingnya pembenahan fundamental ekonomi dan sikap rasional dalam merespons dinamika pasar. Menurutnya, penguatan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kepercayaan investor.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra