Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berbalik Bangkit 0,32% ke Level 4.919,77, Setelah Sempat Terpukul di Zona Merah

        IHSG Berbalik Bangkit 0,32% ke Level 4.919,77, Setelah Sempat Terpukul di Zona Merah Kredit Foto: Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari tekanan jual dan mengakhiri perdagangan Rabu (4/11/2026) di zona hijau. Indeks ditutup menguat 15,48 poin atau 0,32% ke level 4.919,77, mendekati posisi tertinggi sepanjang perdagangan hari ini.

        Pergerakan IHSG sempat diwarnai tekanan pada awal sesi pertama. Indeks bahkan turun hingga kisaran 4.826 sebelum mulai bergerak lebih stabil. Memasuki sesi kedua, IHSG cenderung bergerak sideways, sementara penguatan baru terlihat lebih jelas setelah pukul 14.00 WIB dan semakin kuat menjelang penutupan perdagangan.

        Sepanjang hari, IHSG bergerak dalam rentang sekitar 4.826–4.920. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,65 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 250,94 juta lot.

        Meski ditutup menguat, tekanan di pasar saham masih cukup besar. Tercatat 439 saham melemah, jauh lebih banyak dibandingkan 190 saham yang menguat. Sementara itu, sebanyak 88 saham tidak mengalami perubahan.

        Di tengah penguatan indeks, Phintraco Sekuritas mengingatkan investor untuk mewaspadai risiko koreksi lanjutan. Dalam riset hariannya, Rabu (4/11/2026), Phintraco menyebut level 4.900 menjadi area support penting yang perlu dipertahankan.

        Jika IHSG gagal bertahan di atas level tersebut dan tekanan jual berlanjut, indeks berpotensi menguji area 4.650–4.750.

        Ketidakpastian Global dan Domestik Membayangi Pasar

        Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Investor mulai kembali memburu saham-saham teknologi berkapitalisasi besar setelah sebelumnya mengalami tekanan. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan politik AS, khususnya pemilihan umum paruh waktu atau midterm election.

        Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 5,4%–5,5%.

        Di sisi lain, pemerintah memberikan kepastian mengenai kebijakan perpajakan. Menteri Keuangan menegaskan tidak akan ada skema pungutan pajak baru yang diberlakukan pada 9 November 2026.

        "Di sisi lain, pemerintah memberikan kepastian terkait kebijakan perpajakan. Menteri Keuangan menegaskan tidak akan ada skema pungutan pajak baru yang diberlakukan pada 9 November 2026," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

        Baca Juga: IHSG Makin Tenggelam di Zona Merah, Kini Terpukul ke Level 4.824,36

        Baca Juga: IHSG Dibayangi Ketidakpastian Global dan Domestik, Waspadai Potensi Koreksi ke 4.650

        Investor juga mencermati rencana pemerintah mengubah aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan pengelolaan devisa yang diperoleh dari kegiatan ekspor.

        Sentimen pasar turut dipengaruhi pergerakan sejumlah komoditas dan instrumen keuangan global. Harga minyak melemah pada Selasa (3/11/2026), seiring munculnya harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

        Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury yield naik lebih dari 6 basis poin ke level 4,96%. Di pasar logam mulia, harga emas spot juga turun 0,5% menjadi US$3.927 per troy ounce.

        Perkembangan tersebut menjadi faktor yang dicermati investor dalam menentukan arah investasi, terutama ketika pasar masih dibayangi ketidakpastian dari dalam maupun luar negeri.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: