Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Menperin Tantang Industri Mamin RI: Jangan Biarkan Kapasitas Produksi Menganggur

        Menperin Tantang Industri Mamin RI: Jangan Biarkan Kapasitas Produksi Menganggur Kredit Foto: Kemenperin
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu penopang utama manufaktur nasional. Namun, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan kapasitas produksi industri tersebut bisa dimanfaatkan lebih optimal.

        Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, peningkatan utilisasi menjadi salah satu hal yang perlu didorong agar industri makanan dan minuman dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian.

        "Utilisasi sektor industri di subsektor makanan dan minuman juga harus terus kita pacu agar kapasitas yang ada bisa dimanfaatkan lebih besar lagi," kata Sarmuji dalam acara Indonesia Food Innovation 2026 di PIK 2, Tangerang, Rabu (4/11/2026).

        Menurutnya, optimalisasi kapasitas produksi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas, inovasi, pemanfaatan bahan baku lokal, serta perluasan akses pasar.

        Pasalnya, industri makanan dan minuman memiliki peran cukup besar dalam struktur manufaktur nasional. Pada semester I/2026, subsektor tersebut tumbuh 6,77%, atau lebih tinggi 0,68 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

        Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas juga mencapai 41,86%. Dengan kata lain, hampir separuh aktivitas industri pengolahan nonmigas ditopang oleh sektor ini.

        Dari sisi investasi, industri makanan dan minuman mengantongi Rp47,74 triliun sepanjang semester I/2026. Sebanyak 59% investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).

        Baca Juga: Menperin: Industri Mamin Bukan Sektor Receh, Surplus Perdagangan Capai Rp416 Triliun

        Baca Juga: Menperin: Industri Kertas RI Masih Impor 40% Bahan Baku Daur Ulang

        Sementara itu, ekspor industri makanan dan minuman mencapai US$34,65 miliar selama Januari-Agustus 2026, berbanding dengan impor sebesar US$9,7 miliar. Kondisi tersebut menghasilkan surplus perdagangan hampir US$25 miliar. Sektor ini juga menyerap sekitar 6,9 juta tenaga kerja.

        Sarmuji menilai capaian tersebut perlu menjadi momentum bagi pelaku industri untuk memperkuat daya saing. Terlebih, pengembangan industri mamin tidak cukup hanya mengandalkan produk akhir, tetapi juga membutuhkan penguatan rantai pasok dan industri pengolahan bahan antara.

        Pemerintah pun mendorong pelaku industri memperluas pemanfaatan bahan baku dalam negeri serta mengembangkan produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: