Genjot Pembiayaan Inklusif, Women’s World Banking Soroti Pentingnya Pemahaman Usaha Perempuan
Kredit Foto: Istimewa
Women’s World Banking menyoroti pentingnya memahami kebutuhan dan karakteristik usaha perempuan dalam pengembangan program kredit pemerintah. Pemahaman terhadap aktivitas usaha serta arus kas dapat membantu lembaga keuangan merancang pembiayaan yang sesuai untuk mendukung pengembangan usaha dan ketahanan finansial perempuan.
Rekomendasi tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional, International Fora for Kredit Program Pemerintah yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Nusa Dua, Bali, pada 29 Oktober 2026. Forum ini membahas pengalaman dan pendekatan dalam pengembangan program kredit pemerintah bagi sektor produktif.
Dalam diskusi panel tersebut, Regional Head for Southeast Asia Women’s World Banking Angelique Timmer menekankan pentingnya merancang layanan berdasarkan realitas kehidupan perempuan agar mereka dapat memiliki akses dan menggunakan produk keuangan serta mengembangkan usahanya.
“Perempuan tidak kekurangan ambisi maupun potensi. Namun, sistem keuangan masih sering kali belum sepenuhnya memahami cara usaha mereka menjalankan usaha mereka. Ketika penilaian kredit tidak mempertimbangkan arus kas, kegiatan usaha informal, atau sumber data alternatif, perempuan dengan usaha yang layak tetap luput dari jangkauan layanan keuangan formal. Kita perlu melampaui upaya dari sekadar memperluas akses kredit dengan merancang pembiayaan yang merefleksikan cara perempuan memperoleh pendapatan, berinvestasi, dan mengembangkan usaha. Ini mencakup skema pembayaran yang sesuai dengan kondisi usaha mereka, serta dukungan untuk membangun rekam jejak, menjangkau pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya beralih ke pembiayaan komersial” ucap Angelique yang dikutip di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Untuk mendukung penggunaan layanan secara berkelanjutan, Angelique menambahkan skema pembayaran perlu disesuaikan dengan arus kas usaha, sementara mekanisme pengaduan yang jelas juga diperlukan agar perempuan dapat menyampaikan kendala yang mereka hadapi dalam mengakses program kredit.
Riset yang dilakukan Women’s World Banking pada terhadap pelaku usaha perempuan yang berjualan di e-commerce menemukan bahwa hanya 44% pengusaha perempuan yang mampu mempertahankan usahanya selama 3–5 tahun, sementara hanya 23% yang mampu bertahan lebih dari lima tahun, dibandingkan dengan 31% pengusaha laki-laki.
Pada tingkat kebijakan, pemantauan perkembangan usaha penerima pinjaman menjadi bagian penting dalam pengelolaan kredit program pemerintah, termasuk untuk menilai kesiapan debitur naik kelas ke pembiayaan pada tahap berikutnya.
“Kredit Usaha Rakyat (KUR) dirancang sebagai jembatan bagi pelaku usaha. Kami memantau graduasi debitur pada setiap segmen, mulai dari supermikro, mikro, hingga kecil, dengan harapan mereka dapat mengakses pembiayaan komersial seiring perkembangan usahanya,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan.
Sejalan dengan pandangan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Dunia menekankan bahwa program pembiayaan pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada perluasan akses kredit. Program tersebut juga perlu mendorong UMKM untuk berkembang, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kapasitas usaha agar mampu mengakses pembiayaan komersial secara berkelanjutan.
Baca Juga: BRILink Agen Fillio Buka Akses Keuangan Inklusif bagi Masyarakat Dumai
“Program kredit di Indonesia telah membuka akses pembiayaan bagi jutaan debitur yang baru pertama kali mengakses kredit. Keberhasilan program ke depan perlu dilihat dari sejauh mana UMKM dapat berkembang, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan lapangan kerja, bukan hanya dari besarnya kredit yang disalurkan. Pembiayaan bersubsidi perlu membuka jalan bagi UMKM untuk beralih ke pembiayaan komersial, sehingga jalur menuju pembiayaan komersial yang berkelanjutan perlu dirancang sejak awal program.” ujar Carolyn Turk, Division Director for Indonesia and Timor-Leste, East Asia and Pacific, World Bank.
Bagi Women’s World Banking, jalur pertumbuhan tersebut perlu didukung melalui layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan perempuan di setiap tahap perkembangan usaha mereka. Penguatan kemampuan menggunakan produk keuangan, dukungan setelah pencairan, serta keterhubungan dengan pembeli dan pasar dapat membantu perempuan mempertahankan usaha dan mempersiapkan diri untuk mengakses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka pada tahap pertumbuhan berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: