Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

UMKM Wajib Punya Business Plan Matang agar Mudah Dapat Pembiayaan

UMKM Wajib Punya Business Plan Matang agar Mudah Dapat Pembiayaan Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu menyiapkan rencana bisnis yang matang sebelum mengajukan pembiayaan kepada perbankan maupun lembaga keuangan. Perencanaan yang jelas dinilai menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan usaha sekaligus kelayakan memperoleh akses modal.

CEO AffiliADS yang merupakan bagian dari Hubaku GroupRudy Kurniawan, menegaskan bahwa pengajuan pembiayaan tidak hanya soal kebutuhan dana, tetapi juga kesiapan pelaku usaha dalam mengelola perputaran modal serta menghadapi risiko usaha.

“Pada saat membuat business plan, semua hal itu harus dipersiapkan. Jadi, apa yang akan dilakukan berdasarkan sumber daya yang dimiliki saat ini, bagaimana jika mendapat tambahan sumber daya untuk mengembangkan usaha, hingga menyiapkan backup plan,” ujar Rudy dalam acara Funding Day Financial Event di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Rudy mengatakan pembiayaan konvensional maupun syariah pada dasarnya memiliki prinsip penilaian yang serupa, yakni berfokus pada kelayakan usaha dan kemampuan pelaku UMKM dalam mengembalikan pembiayaan.

“Fokuslah pada rencana bisnis yang Anda ukur sendiri, hitung sendiri, dan siapkan sendiri. Selain itu, bank juga akan melihat kemampuan Anda untuk membayar,” katanya.

Lebih lanjut, Rudy menjelaskan terdapat tiga jalur utama ekspansi bisnis yang dapat dipilih UMKM sesuai karakter usaha masing-masing.

Pertama, ekspansi fisik seperti membuka cabang atau menambah fasilitas produksi. Model ini umumnya membutuhkan modal besar dan pasar lokal yang sudah terbukti kuat.

“Ini cocok untuk usaha dengan modal besar karena investasinya tinggi di awal,” ujarnya.

Kedua, ekspansi melalui agregator atau platform layanan digital yang memungkinkan pelaku usaha menguji pasar dalam waktu relatif cepat dengan kebutuhan modal yang lebih ringan.

“Ini cocok untuk makanan segar, siap saji, dan produk-produk populer. Dari sisi modal, kebutuhan infrastrukturnya juga lebih ringan,” jelas Rudy.

Namun, untuk model ekspansi ini, pelaku usaha perlu memperhitungkan margin keuntungan yang dapat tertekan akibat biaya platform dan tingginya persaingan.

“Artinya, kita harus lebih cermat menghitung margin. Kalau produknya bagus, semua pelaku usaha akan masuk ke pasar itu sehingga persaingannya ketat,” katanya.

Baca Juga: UMKM Akan Dilindungi Regulasi Baru di E-Commerce

Baca Juga: AI Bukan Sekadar Tren: Senjata Baru UMKM Indonesia

Baca Juga: Gap Pembiayaan UMKM Tembus Rp2.400 Triliun pada 2026, Fintech Bisa Ambil Bagian

Ketiga, ekspansi melalui marketplace digital yang dinilai menjadi jalur tercepat untuk menguji produk sekaligus membangun pasar.

Meski demikian, Rudy mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap platform digital dapat menjadi risiko apabila pelaku usaha tidak mulai membangun merek secara mandiri.

“Ketika bisnis sudah berjalan secara online, kita bisa terus bergantung pada platform tersebut. Kecuali jika memiliki partner, tim, atau orang yang mampu membantu membangun rencana bisnis secara mandiri,” tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri