Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Hanya Listyo Sigit, Said Didu Sebut Ada Pengkhianat yang 'Menempel' Prabowo

        Tak Hanya Listyo Sigit, Said Didu Sebut Ada Pengkhianat yang 'Menempel' Prabowo Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat kebijakan publik Said Didu menduga penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan orang yang berada dekat dengan presiden. Dugaan itu ia sampaikan dalam dialog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (5/11/2026), tanpa menyebut nama dan tanpa menyertakan bukti.

        “Yang saya waswas adalah orang yang menempel atau dekat presiden bekerja sama dengan penyadap,” kata Said.

        Menurut Said, orang yang bisa berkomunikasi dengan presiden setiap saat sulit dianggap tidak mengetahui penyadapan itu. “Sangat tidak masuk akal apabila orang yang melekat atau bisa berkomunikasi dengan presiden setiap saat itu tidak terlibat,” ujarnya. 

        Ia menambahkan, orang seperti itu “tidak bisa tidak terlibat”. Alasannya, ia mempertanyakan siapa yang memegang ponsel presiden sehari-hari.

        Said juga menduga Prabowo sendiri sudah menyadari ponselnya disadap. Menurutnya, mengetahui hal itu bukan perkara rumit karena teknologinya sederhana. Karena itu ia memperkirakan presiden sudah mengetahui siapa saja yang terlibat, meski penindakan harus tetap berdasarkan hukum.

        Dalam wawancara yang sama, Said mengaku mendapat informasi bahwa seorang mantan sekretaris pribadi (sespri) Listyo Sigit Prabowo pernah “dititipkan” kepada Prabowo. Ia menyebut penempatan itu sebagai jebakan, tetapi menurutnya Prabowo tidak memakai orang tersebut. 

        Baca Juga: Prabowo Disebut Sudah Disadap Sejak Jadi Menteri Pertahanan

        Ia mengatakan hal yang sama berlaku bagi empat ajudan dari TNI yang disebutnya juga tidak dipakai. Said menilai tingkat kewaspadaan Prabowo “mendekati paranoid”, dan kewaspadaan berlebihan itu menurutnya berisiko membuat presiden keliru menilai siapa yang benar-benar loyal.

        Said juga mengaku mendengar bahwa pihak yang diperintah menghancurkan data penyadapan justru melaporkannya. Menurutnya, jika tidak demikian, “mungkin Pak Prabowo hari ini sudah jatuh”. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: