Wamenkomdigi Angga Raka Minta Pemimpin Digital Tak Terjebak Serapan Anggaran
Kredit Foto: Komdigi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo mengingatkan para calon pemimpin agar tidak menjadikan penyerapan anggaran sebagai tolok ukur utama keberhasilan program pemerintah. Menurutnya, setiap kebijakan dan investasi teknologi harus menghasilkan manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Angga menilai pemimpin di era digital perlu berani mengubah pola kerja lama, termasuk mengevaluasi program yang tidak memberikan dampak signifikan. Pasalnya, kegiatan yang terus dijalankan tanpa evaluasi berpotensi menghabiskan sumber daya tanpa menyelesaikan persoalan publik.
"Artinya, tolong jangan bikin KPI yang sudah dicapai cuma karena ada serapan," tegas Angga dalam pernyataan resmi yang diterima, Jumat (6/11/2026).
Ia menjelaskan, tujuan bernegara harus menjadi landasan bagi pemimpin dalam menentukan arah kebijakan. Pembangunan, termasuk di sektor digital, semestinya mampu memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, pasar, hingga layanan publik.
Baca Juga: Fore Laporkan Dugaan Kebocoran Data, Komdigi Mulai Lakukan Pemeriksaan
Menurut Angga, pembangunan teknologi tidak boleh berhenti pada penyediaan infrastruktur maupun pengembangan inovasi. Pemimpin perlu memastikan bahwa seluruh investasi tersebut memiliki tujuan yang jelas dan menjawab kebutuhan masyarakat.
"Teknologi itu penting, AI itu penting, data dan infrastruktur digital yang dibangun itu penting. Tapi itu semua bukan suatu tujuan akhir. Pertanyaan yang lebih krusial menurut saya, teknologi ini dibangun untuk apa? BUMN itu bekerja untuk apa? Kemudian, menjadi pemimpin itu untuk apa?" ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perancangan program yang berorientasi pada hasil. Misalnya, kegiatan sosialisasi dan literasi digital perlu disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat agar tidak sekadar menjadi agenda rutin tanpa dampak terukur.
"Kegiatan seperti sosialisasi dan literasi digital penting, tapi program ini harus dirancang agar menjawab kebutuhan masyarakat dan lebih berdampak," katanya.
Lebih lanjut, Angga menguraikan tiga tantangan utama yang harus dihadapi pemimpin di era digital, yakni kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, menjaga keamanan, serta membangun kedaulatan digital.
Baca Juga: Fore Laporkan Dugaan Kebocoran Data, Komdigi Mulai Lakukan Pemeriksaan
Dalam hal kedaulatan digital, ia menekankan bahwa Indonesia perlu memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri. Namun, upaya tersebut bukan berarti menutup diri dari kolaborasi dengan pihak asing maupun kerja sama internasional.
"Kita mandiri itu bukan berarti kita anti terhadap asing. Kemandirian di sini adalah kita juga harus punya kemampuan untuk mengembangkan, bahkan memiliki dan membangun sendiri," ujarnya.
Angga turut mengingatkan agar pemerintah tidak menjalankan program pembangunan teknologi secara sektoral. Menurutnya, setiap investasi digital harus didukung oleh kesiapan ekosistem dan infrastruktur lain agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Ia mencontohkan penyediaan layar pintar di sekolah yang semestinya disertai pemeriksaan ketersediaan akses internet. Tanpa dukungan konektivitas, pengadaan perangkat teknologi berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Berpikirlah holistik, jangan berpikir sektoral. Karena yang menjadi program ini semuanya saling berkaitan," katanya.
Di samping itu, Angga mendorong calon pemimpin untuk terbuka terhadap masukan, memahami persoalan dari berbagai tingkatan organisasi, serta terus mengembangkan kapasitas diri.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan merancang kebijakan, tetapi juga keberanian mengidentifikasi persoalan dan menghadirkan solusi yang relevan.
"Kita harus tahu masalah, hadapi masalah, dan berikan solusi terhadap masalah," pesannya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah