Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Industri Petrokimia RI Terjepit! Pasokan Dunia Melimpah, Persaingan Makin Brutal

        Industri Petrokimia RI Terjepit! Pasokan Dunia Melimpah, Persaingan Makin Brutal Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri petrokimia Indonesia memasuki 2027 dengan peluang pasar yang besar, tetapi juga tekanan persaingan yang semakin kuat. Pertumbuhan kebutuhan bahan baku untuk kemasan, tekstil, otomotif, hingga konstruksi belum otomatis meningkatkan penyerapan produksi domestik di tengah kelebihan pasokan petrokimia global.

        Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Sri Bimo Pratomo mengatakan, ekspansi kapasitas produksi di berbagai negara mendorong produsen mencari pasar ekspor. Indonesia, dengan jumlah penduduk besar, menjadi salah satu pasar yang menarik.

        “Dengan adanya oversupply ini, tentu produsen petrokimia dunia mencari pasar,” kata Bimo dalam diskusi Bincang Manufaktur mengenai prospek industri petrokimia 2027, Jumat (6/11/2026).

        Bimo menjelaskan, China yang sebelumnya menjadi tujuan ekspor produk petrokimia kini telah membangun industri dari hulu hingga hilir. Negara tersebut mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan memiliki kelebihan pasokan. Penambahan kapasitas juga berlangsung di negara lain, sehingga persaingan memperebutkan pasar semakin ketat.

        Bagi Indonesia, kondisi itu menimbulkan tantangan ganda. Industri perlu menambah kapasitas pada produk yang masih kurang, sekaligus menjaga agar kapasitas yang sudah tersedia dapat terserap pasar.

        Kapasitas Tersedia, Impor Tetap Masuk

        Bimo menyebut kapasitas terpasang polyethylene dan polypropylene di Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 60–66 persen kebutuhan domestik. Kedua bahan tersebut digunakan untuk menghasilkan berbagai produk plastik.

        Namun, situasi berbeda terjadi pada polyvinyl chloride atau PVC. Menurut paparannya, kapasitas produksi PVC Indonesia mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, sedangkan permintaan domestik pada 2027 diperkirakan mencapai 873.000 ton.

        Dengan kapasitas tersebut, produsen domestik secara teoritis memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meski demikian, produk impor tetap masuk dan bersaing di pasar.

        “Seharusnya ini bisa diproduksi semua dari dalam negeri. Tetapi nyatanya sekarang banyak impor,” ujar Bimo.

        Tekanan persaingan turut memengaruhi rencana ekspansi. Pelaku usaha membutuhkan kepastian bahwa penambahan kapasitas memiliki peluang pasar yang cukup untuk menopang investasi.

        Hal itu menjadi penting karena pembangunan industri petrokimia membutuhkan modal besar dan waktu panjang. Menurut Bimo, kepastian regulasi dan iklim usaha menjadi faktor yang menentukan keputusan investor.

        “Industri petrokimia ini padat modal, sehingga perlu ada kepastian regulasi dan iklim usaha,” katanya.

        Bahan Baku dan Energi Masih Menjadi Tantangan

        Selain persaingan pasar, industri petrokimia menghadapi kerentanan dari sisi bahan baku. Bimo menjelaskan, pasokan nafta dan LPG untuk industri petrokimia hulu masih bergantung pada impor sehingga terdampak gangguan pasokan dan situasi geopolitik.

        Indonesia memiliki nafta, tetapi pemanfaatannya masih berorientasi pada kebutuhan bahan bakar. Karena itu, pengembangan pasokan bahan baku domestik menjadi salah satu pekerjaan yang perlu didorong.

        Kepastian pasokan gas juga menjadi perhatian. Ketika terjadi gangguan, industri membutuhkan kejelasan waktu pemulihan untuk mengatur produksi dan memenuhi pesanan pelanggan.

        “Mereka perlu kepastian kapan bisa selesai, sehingga industri itu juga punya beban terhadap konsumen,” ujar Bimo.

        Di sisi kebijakan, ia menyoroti perlunya penyelarasan tarif bahan baku dan produk turunannya. Beban bea masuk pada bahan baku dapat menekan daya saing apabila produk jadi memperoleh tarif lebih rendah.

        Kebutuhan perbaikan juga mencakup insentif investasi dan ketentuan pengkreditan pajak. Karakter proyek petrokimia yang membutuhkan waktu pembangunan panjang perlu diperhitungkan agar kebijakan fiskal mendukung kelangsungan investasi.

        Pertumbuhan Hilir Membuka Peluang

        Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menilai industri petrokimia memiliki peran mendasar bagi kegiatan manufaktur.

        “Kita merupakan ibu dari segala industri, kita mendukung semuanya,” kata Fajar.

        Ia melihat peluang pertumbuhan dari industri makanan dan minuman, otomotif, tekstil, serta barang elektronik. Peningkatan kegiatan pada sektor-sektor tersebut berpotensi memperbesar kebutuhan bahan baku petrokimia.

        Pada industri tekstil, misalnya, perbaikan produksi dapat meningkatkan kebutuhan polyester dan bahan kimia pendukungnya. Begitu pula perkembangan perakitan kendaraan di dalam negeri yang diharapkan memperluas penyerapan komponen dan bahan baku lokal.

        Fajar juga menilai konsumsi plastik domestik masih memiliki ruang pertumbuhan. Berdasarkan angka yang disampaikannya, konsumsi plastik Indonesia sekitar 28 kilogram per kapita per tahun, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

        “Kita masih punya kesempatan yang cukup untuk pertumbuhan ini. Sebenarnya peluangnya masih ada,” ujarnya.

        Namun, pertumbuhan konsumsi belum tentu memberikan manfaat yang sama sepanjang rantai industri. Fajar menyoroti masuknya barang jadi plastik yang dapat menggantikan produksi lokal dan mengurangi kebutuhan bahan baku dari pabrik domestik.

        Karena itu, peningkatan permintaan di pasar akhir perlu diikuti kemampuan industri nasional untuk memasok kebutuhan tersebut.

        Baca Juga: Menperin: Rokok Ilegal Bikin Industri Tembakau Legal Kalah Saing!

        Baca Juga: Kemenperin Ungkap Penjualan Olahan Kakao RI Tembus 93 Ribu Ton, Cocoa Liquor Meledak 91%

        Menjaga Investasi, Menghubungkan Hulu dan Hilir

        Untuk memperkuat industri, Fajar menekankan pentingnya diversifikasi bahan baku. Penambahan pilihan sumber bahan baku diharapkan memberikan fleksibilitas produksi dan memperkuat rantai pasok petrokimia.

        Ia juga mendorong pembentukan peraturan presiden mengenai ketahanan industri petrokimia. Menurutnya, persoalan yang dihadapi industri melibatkan banyak kementerian dan lembaga, sehingga membutuhkan koordinasi kebijakan yang lebih kuat.

        “Kalau ada perpres, koordinasi akan lebih gampang,” kata Fajar.

        Kebutuhan koordinasi tersebut juga terlihat pada hubungan industri hulu dan hilir. Produsen barang jadi membutuhkan bahan baku dengan harga kompetitif, sementara produsen bahan baku memerlukan kondisi usaha yang mendukung keberlanjutan produksi dan investasi.

        Bimo menekankan pentingnya menjaga hubungan keduanya dalam satu rantai industri.

        “Harapan kami, hulu hingga hilir ini menjadi satu ekosistem yang kuat sehingga kita dapat mandiri,” tutup Fajar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: