Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pembalut Kena PPN 11 Persen, Guntur Romli Sentil Pemerintah: Mbak Puan Sudah Bersuara, Di Mana Nurani Kalian?

        Pembalut Kena PPN 11 Persen, Guntur Romli Sentil Pemerintah: Mbak Puan Sudah Bersuara, Di Mana Nurani Kalian? Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Politisi Mohamad Guntur Romli menegaskan dukungannya terhadap langkah Ketua DPR RI Puan Maharani yang mendorong agar pembalut menstruasi dikategorikan sebagai kebutuhan primer kesehatan reproduksi perempuan.

        Guntur Romli menilai pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen terhadap pembalut menunjukkan minimnya empati pemerintah terhadap kebutuhan perempuan.

        "Pembalut Buat Menstruasi Kok Dipajaki Sampai 11 Persen? Mbak Puan Sudah Bersuara, Di Mana Nurani Pemerintah Kita?" tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (6/11).

        Ia kemudian menggambarkan kondisi perempuan dari berbagai kalangan yang harus menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pembalut.

        "Di warung-warung kecil, ada ibu yang harus menimbang: membeli beras atau pembalut untuk anak gadisnya. Ada siswi yang memilih tidak masuk sekolah karena pembalutnya tak cukup. Ada buruh perempuan yang memakai satu pembalut lebih lama dari seharusnya, demi berhemat. Bagi mereka, selisih harga sekecil apa pun terasa berat," lanjutnya.

        Guntur Romli juga mengutip pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah yang mengingatkan bahwa persoalan perempuan merupakan persoalan masyarakat.

        Menurutnya, memastikan perempuan dapat menjalani siklus biologisnya dengan sehat dan bermartabat bukan sekadar persoalan tarif, melainkan juga menyangkut keberpihakan negara.

        Baca Juga: Puan Maharani Minta Pemerintah Evaluasi Pajak Pembalut, Dorong Produk Menstruasi Jadi Kebutuhan Pokok

        Ia juga menegaskan negara seharusnya tidak memungut pajak dari sesuatu yang tidak bisa dipilih oleh perempuan. Menurutnya, pembalut bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.

        "Mbak Puan sudah bersuara. Kini giliran pemerintah menunjukkan nuraninya," tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: