Kredit Foto: Istimewa
Perusahaan yang bermula dari satu lini usaha kerap tumbuh menjadi kelompok bisnis dengan sumber laba yang berbeda dari asalnya. Oleh karena itu, penilaian terhadap emiten seperti ini tidak cukup hanya melihat sektor yang tertera pada namanya.
Contoh paling jelas adalah Amazon.com, Inc. (AMZN). Perusahaan ini sangat populer sebagai peritel e-commerce, tetapi sebagian besar labanya justru bertumpu pada layanan komputasi awan (cloud computing).
Karena itu, saham luar negeri seperti saham AMZN menarik dicermati investor Indonesia yang ingin memahami struktur laba perusahaan global. Posisinya di bursa Nasdaq juga membuat saham AMZN ikut menentukan arah pergerakan indeks teknologi Amerika Serikat.
Memisahkan sumber pendapatan (revenue) dari sumber laba menjadi kunci dalam membaca laporan keuangan Amazon. Berikut profil perusahaan, struktur segmen, kinerja terbaru, serta hal teknis yang perlu diperhatikan investor Indonesia.
Profil Amazon dan Jejaknya di Bursa Nasdaq
Amazon.com, Inc. didirikan oleh Jeff Bezos pada 5 Juli 1994 dan berpusat di Seattle, Washington. Perusahaan ini mencatatkan saham perdananya (initial public offering) pada 15 Mei 1997 di bursa Nasdaq dengan kode saham AMZN.
Kapitalisasi pasar Amazon tercatat sekitar USD2,73 triliun per 15 September 2026. Perusahaan ini juga belum pernah membagikan dividen sepanjang sejarahnya. Konsekuensinya, arus kas diarahkan untuk belanja modal dan ekspansi, bukan distribusi kepada pemegang saham.
Tiga Segmen dengan Kontribusi Laba yang Timpang
Pada kuartal kedua 2026, Amazon membukukan penjualan bersih USD200,6 miliar (tumbuh 20 persen secara tahunan/YoY). Namun, kontribusi pendapatan dan laba operasinya terbagi secara tidak seimbang di antara tiga segmen utama.
Segmen North America menyumbang USD116,2 miliar, International USD42,2 miliar, dan AWS USD42,2 miliar. Dengan demikian, AWS hanya menyumbang sekitar 21 persen dari total pendapatan.
Gambaran tersebut berubah ketika yang dilihat adalah laba operasi per segmen. AWS menghasilkan laba operasi USD16,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan North America sebesar USD9,1 miliar dan International sebesar USD1,7 miliar.
Artinya, AWS menyumbang sekitar 60 persen laba operasi konsolidasi meski porsinya terhadap pendapatan lebih kecil. Pada periode yang sama, lini bisnis iklan (advertising) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 26% YoY
Kinerja Terbaru dan Pos yang Perlu Dicermati
Laba bersih Amazon pada kuartal kedua 2026 melonjak menjadi USD62,6 miliar (Laba Per Saham/EPS Terdilusi USD5,75), dibandingkan kuartal kedua 2025 yang tercatat sebesar USD18,2 miliar (EPS USD1,68).
Namun, angka terbaru tersebut memuat USD53,4 miliar pendapatan lain nonoperasional sebelum pajak, terutama dari revaluasi investasi di Anthropic. Oleh karena itu, laba operasi sebesar USD27,5 miliar (tumbuh 43% YoY) menjadi indikator yang lebih mencerminkan kinerja operasional bisnis inti Amazon.
Pendorong sentimen terbesar pada 2026 adalah laju pertumbuhan AWS. Pertumbuhannya sekitar 37 persen secara tahunan, tercepat dalam 18 kuartal, dengan laju pendapatan tahunan mencapai USD169 miliar.
Dalam konteks tersebut, Amazon menambah investasi hingga USD25 miliar di Anthropic pada April 2026 sebagai bagian dari kerja sama infrastruktur kecerdasan buatan.
Hal Teknis bagi Investor Indonesia yang Memantau AMZN
Bagi investor Indonesia yang ingin mentransaksikan atau mengamati saham AMZN, terdapat dua faktor teknis utama yang perlu diperhatikan:
1. Jam Perdagangan Bursa AS (WIB)
Perdagangan utama di bursa Amerika Serikat berlangsung pukul 09.30 - 16.00 Eastern Time (ET). Dalam Waktu Indonesia Barat (WIB), jadwalnya adalah:
Musim Panas (Daylight Saving Time): Pukul 20.30 - 03.00 WIB
Waktu Standar (Standard Time): Pukul 21.30 - 04.00 WIB
2. Dampak Non-Kas dan Kurs Valuta Asing
Pembacaan laporan keuangan Amazon juga menuntut kehati-hatian karena laba bersihnya dapat berubah tajam akibat pos nonkas. Perubahan nilai investasi di Anthropic bisa mengubah laba bersih tanpa perubahan pada bisnis ritel maupun AWS. Selain itu, bagi investor Indonesia, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menentukan hasil akhir dalam rupiah.
Jangkau Saham Amazon Lewat Ajaib
Memahami struktur laba perusahaan global terasa lebih bermakna ketika posisinya benar-benar dimiliki. Ajaib menyediakan akses ke lebih dari 600+ saham perusahaan Amerika Serikat, termasuk Amazon, Apple, NVIDIA, dan Tesla.
Skema fractional share memungkinkan pembelian dimulai dari USD1 tanpa menunggu modal untuk membeli satu lembar penuh. Ajaib merupakan platform investasi yang terdaftar dan diawasi OJK. Anda dapat mengunduh aplikasi Ajaib atau mengunjungi ajaib.co.id untuk menelusuri daftar saham Amerika.
Baca Juga: Saat Konsumen Amazon Dimanjakan dengan Diskon, Jeff Bezos Malah PHK Karyawan
Baca Juga: Mulai Olahraga di Rumah dengan Belanja di Promo 11.11 Sport Diskon sd 80%
Amazon adalah emiten Nasdaq yang pendapatannya didominasi bisnis ritel, tetapi laba utamanya bertumpu pada layanan komputasi awan AWS. Laba bersih kuartal kedua 2026 terdongkrak pos nonoperasional, sehingga laba operasi menjadi ukuran yang lebih relevan untuk melihat kinerja bisnis.
Pada akhirnya, pertumbuhan AWS dan rencana belanja modal menjadi dua hal yang paling menggerakkan sentimen terhadap Amazon.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: