Kremlin Bantah Rusia Dalangi Peretasan Kulkas Supermarket Eropa
Kredit Foto: Sanwoo Electrics
Kremlin membantah tuduhan keterlibatan Rusia dalam serangan siber yang melumpuhkan sistem pendingin supermarket di sejumlah negara Eropa. Moskow menilai tuduhan tersebut tidak memiliki dasar bukti.
Juru Bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov menyebut tuduhan keterlibatan Moskow dalam serangan tersebut sebagai pernyataan yang tidak masuk akal. Dia juga menilai negara-negara Barat semakin sering melontarkan tuduhan sepihak terhadap Rusia terkait berbagai insiden keamanan siber.
Bantahan tersebut muncul setelah serangkaian serangan siber menargetkan sistem pendingin industri di sedikitnya 9 negara Eropa, termasuk Prancis, Belgia, Swedia, Finlandia, dan Inggris.
Mengutip ATP World, Sabtu (7/11/2026), dalam serangan tersebut, peretas diduga menyusup ke sistem pengendali suhu lemari pendingin supermarket dan mengubah pengaturannya hingga suhu mesin pendingin melonjak di atas 50 derajat Celsius.
Gangguan itu berdampak langsung terhadap operasional peritel dan rantai pasok pangan. Sejumlah supermarket terpaksa membuang produk makanan beku yang rusak akibat sistem pendingin tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Kerugian ekonomi akibat serangan tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS. Serangan bahkan dilaporkan menyasar fasilitas penyimpanan lemari pendingin Bank Darah Nasional Prancis.
Di tengah penyelidikan, dua kelompok hacktivist yang memiliki afiliasi pro-Rusia, NoName057(16) dan Z-Pentest, sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui saluran Telegram.
Sementara itu, perusahaan keamanan siber Lupovis menemukan indikasi aktivitas jaringan yang mengarah ke Rusia setelah memasang sistem pancingan atau honeypot untuk memantau aktivitas mencurigakan.
Meski demikian, temuan jejak lalu lintas internet dan klaim kelompok peretas tersebut belum dengan sendirinya membuktikan keterlibatan langsung pemerintah Rusia.
Dari sisi teknis, para pakar keamanan siber mengungkap bahwa serangan memanfaatkan kelemahan perangkat lunak usang pada sistem pengendali pendingin industri.
Perangkat yang terdampak diketahui berasal dari produsen teknologi pendingin Danfoss dan Copeland. Sistem tersebut terhubung ke jaringan internet sehingga membuka peluang bagi pihak tidak berwenang untuk mengakses dan memanipulasi pengaturan operasionalnya.
Baca Juga: 9 Negara Eropa Kena Serangan Siber, Freezer Supermarket Jadi Target Operasi
Baca Juga: Gelombang Demo Gen Z Mengguncang Eropa, Jerman dan Prancis Perketat Keamanan
Kasus ini kembali menyoroti risiko keamanan siber pada infrastruktur industri yang terhubung ke internet. Sistem pengendali pendingin yang sebelumnya berfungsi untuk menjaga kualitas dan keamanan produk kini dapat menjadi pintu masuk serangan digital dengan dampak langsung terhadap operasional bisnis.
Insiden tersebut juga memperlihatkan bahwa ancaman siber tidak hanya menyasar data pelanggan, sistem pembayaran, atau informasi perusahaan, tetapi dapat meluas ke perangkat fisik yang menopang rantai pasok kebutuhan masyarakat.
Bagi industri ritel dan pangan, gangguan pada sistem teknologi operasional berpotensi menimbulkan kerugian finansial sekaligus mengganggu ketersediaan produk di pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: