Gelombang Demo Gen Z Mengguncang Eropa, Jerman dan Prancis Perketat Keamanan
Kredit Foto: Twitter.com
Gelombang demonstrasi yang berlangsung bertepatan dengan perayaan Halloween mengguncang sejumlah negara Eropa pada Sabtu (31/10/2026). Aksi yang melibatkan ribuan orang tersebut berujung kerusuhan, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan toko di beberapa kota.
Jerman menjadi salah satu negara yang mengalami situasi paling serius. Demonstrasi kelompok Generasi Z berlangsung di 34 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich. Massa menyuarakan tuntutan terkait perbaikan pendidikan, penurunan biaya hidup, serta penolakan terhadap rencana pemberlakuan wajib militer.
Namun, aksi di Frankfurt berubah ricuh ketika sejumlah perusuh bertopeng merusak etalase dan menjarah toko. Sedikitnya 17 toko mengalami kerusakan, lima di antaranya dijarah. Polisi mengerahkan sekitar 1.300 personel untuk mengendalikan situasi.
Kerusuhan tersebut menyebabkan lebih dari 100 petugas mengalami luka-luka. Sebanyak 54 orang berusia 13 hingga 29 tahun juga ditangkap.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hessen, Roman Poseck, mengecam keras aksi kekerasan tersebut dan menegaskan bahwa pelaku perusakan serta penjarahan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menyatakan pemerintah tidak akan menoleransi kerusuhan yang mengancam keamanan masyarakat. Ia memastikan para pelaku yang terbukti terlibat akan mendapat sanksi tegas.
Baca Juga: Surat Edaran Kapolri Terbit, Polisi yang Kedapatan Pakai Vape Terancam Sanksi
Kerusuhan juga menjadi perhatian pemerintah Prancis. Sebanyak 70.000 personel polisi dan gendarmerie dikerahkan untuk mengamankan demonstrasi selama akhir pekan Halloween.
Sekitar 320.000 orang diperkirakan mengikuti aksi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (31/10/2026). Jumlah tersebut menurun dibandingkan demonstrasi sebelumnya pada 17 Oktober yang diikuti 550.000 orang dan 24 Oktober dengan 410.000 peserta.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, sejumlah kelompok terlibat bentrokan dengan aparat di Paris dan beberapa kota lainnya. Massa dilaporkan melemparkan botol kaca serta kembang api ke arah polisi, yang kemudian merespons menggunakan gas air mata dan granat kejut.
Otoritas Prancis melaporkan lebih dari 560 orang ditangkap hingga Sabtu malam. Pemerintah juga memberlakukan pembatasan aktivitas malam hari di sejumlah kawasan Paris untuk mencegah kerusuhan dan penjarahan.
Gelombang demonstrasi turut terjadi di Portugal. Ribuan orang turun ke jalan di Lisbon untuk memprotes krisis perumahan dan tingginya biaya sewa.
Di Belanda, aparat meningkatkan pengamanan di pusat perbelanjaan Den Haag setelah muncul seruan demonstrasi dan kekhawatiran penjarahan. Sejumlah toko bahkan memasang pelindung pada jendela sebagai langkah antisipasi.
Secara umum, aksi demonstrasi di berbagai negara Eropa dipicu keresahan generasi muda terhadap mahalnya biaya hidup, terbatasnya akses pendidikan, krisis perumahan, serta buruknya pelayanan publik.
Meski sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, gelombang kekerasan dan penjarahan membuat pemerintah sejumlah negara memperketat pengamanan serta menegaskan tidak akan menoleransi tindakan anarkistis.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: