Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Posisi likuiditas PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk atau BNI mulai mengalami keterbatasan. Pasalnya hingga kuartal III-2016, posisi loan to deposit ratio (LDR) mencapai 92,8 persen atau menembus batas atas yang disarankan Bank Indonesia (BI).
Posisi LDR ini meningkat signifikan bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya sebesar 87,7 persen. Dengan kondisi itu masih cukup amankah kondisi likuditas BNI atau jangan-jangan memang terjadi pengetatan?
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengklaim tingkat likuiditas perseroan masih cukup aman meski menembus batas atas yang ditentukan BI. Pasalnya, menurut dia, masih ada sumber dana yang tidak dimasukkan dalam komponen LDR seperti pinjaman bilateral, pinjaman antarbank, dan lain-lain.
"Cuma, sumber dana kami di luar komponen LDR masih besar, seperti pinjaman antarbank," ujar Baiquni di Jakarta, Kamis (13/10/2016).
Meski terbilang tinggi, Baiquni yakin pihaknya tidak akan mendapat sanksi kenaikan giro wajib minimum (GWM). Hal ini karena pertumbuhan kredit BNI didukung oleh fundamental yang masih kuat.
"Pertumbuhan tersebut tetap didukung oleh fundamental yang kuat di mana tingkat kecukupan permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) tetap terjaga baik, yaitu naik dari 17,4% menjadi 18,4%. Dan secara fundamental, penyisihan pencadangan juga tetap terjaga dengan baik dengan tingkat coverage ratio naik dari 139,6% menjadi 143,2%," jelasnya.
Oleh sebab itu, kata Baiquni, perseroan tetap optimistis bisa meraih pertumbuhan kredit di kisaran 16-17 persen hingga akhir 2016.
"Pertumbuhan kredit hingga akhir 2016 diharapkan sebesar 16-17 persen. Kalau secara year-to-date hingga September 2016 tumbuh sebesar 14 persen. Ke depan, yang membatasi pertumbuhan kredit adalah likuiditas," paparnya.
Sepanjang kuartal III-2016, BNI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp372,02 triliun pada kuartal III-2016 atau meningkat 21,1% dibandingkan kuartal III-2015. Pertumbuhan ini jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit di industri yang mencapai 7,6% per Agustus 2016.
Penyaluran kredit BNI ke sektor business banking masih menjadi yang terbesar dengan komposisi 73,0% dari total kredit atau sebesar Rp271,68 triliun. Aliran kredit ke sektor business banking ini tumbuh 23,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2015.
Pada sektor business banking ini, kredit BNI disalurkan ke segmen korporasi (sebanyak 24,3%), kredit BUMN (19,1%), lalu ke segmen menengah (16,3%), dan segmen kecil (sebesar 13,3%). Di samping kredit ke sektor business banking, BNI juga mengucurkan pembiayaan ke sektor consumer banking dengan alokasi 16,9% dari total kredit, terutama pada kredit kepemilikan rumah (BNI Griya), kartu kredit, dan fleksi. Kredit ke sektor consumer banking tumbuh 14,4%.
Dari sisi aset, BNI mencatat total aset pada kuartal III tahun 2016 sebesar Rp571,51 triliun atau tumbuh 25,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2015 di mana kualitas asetnya tetap terjaga pada kondisi yang masih dapat terkelola dengan sehat.
BNI dapat menghimpun aset di level rendah risiko yang ditandai dengan rendahnya gross NPL, yaitu 3,1%. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) yang terhimpun per kuartal III tahun 2016 mencapai Rp401,88 triliun atau meningkat 15,0% dibandingkan periode yang sama tahun 2015.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Cahyo Prayogo
Tag Terkait: