Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Bikin Bahlil Frustasi, Proyek Titan Groundbreaking Tahun Ini

Sempat Bikin Bahlil Frustasi, Proyek Titan Groundbreaking Tahun Ini Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka-bukaan mengenai dinamika di balik layar Proyek Baterai Terintegrasi "Titan". Bahlil mengaku sempat berada di titik frustasi akibat alotnya proses negosiasi dan ketidakpastian mitra lama dalam mega proyek ini.

Rasa frustasi itu muncul lantaran proyek berkapasitas 20 Giga Watt hour (GWh) ini sempat terkatung-katung setelah ditinggal LG Energy Solution (LGES). Kini, posisi LGES resmi digantikan oleh raksasa baterai asal China, HYD Investment Limited yang merupakan bagian dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd.

"Atas perjuangan panjang, atas negosiasi alot dari Antam, dari Mind ID, dari konsorsium, saya memimpin rapat ini mungkin sudah lebih dari 10 kali. Sampai-sampai saya frustasi juga," ungkap Bahlil saat menyaksikan peresmian masuknya Huayou di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca Juga: Bahlil Pastikan Antam Pasok Nikel untuk Proyek Baterai 'Titan'

Bahlil menceritakan, proyek ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2020 saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala BKPM/Menteri Investasi.

Tujuannya adalah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang terintegrasi dari tambang, smelter, HPAL, prekursor, katoda, hingga baterai sel.

Namun, proses Feasibility Study (FS) dengan pihak LG memakan waktu hingga empat tahun tanpa kepastian.

"Terakhir LG-nya banyak pertimbangan, empat tahun. FS-nya lama sekali. Akhirnya karena waktu yang tidak menentu, kami memutuskan untuk, 'Sudah, kau ambil barangnya saja,' tetapi untuk ekosistemnya biar teman-teman yang melakukan," tegas Bahlil.

Masuknya Huayou ke dalam konsorsium bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI) pun disebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian rapat yang intens.

Proyek Titan yang bernilai investasi US$ 6 miliar ini ditargetkan mulai melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada tahun ini. Proyek ini diproyeksikan bakal menyerap sedikitnya 10.000 tenaga kerja baru.

"Dan insya Allah, tahun ini juga kita melakukan groundbreaking, dalam arahan Bapak Presiden, bisa kita lakukan semester pertama, kalau sudah selesai persiapannya, kemudian kita lakukan," jabarnya.

Baca Juga: Konsorsium HYD Garap Proyek Titan US$6 Miliar Bareng Antam dan IBI

Adapun pengembangan akan dilakukan di dua lokasi strategis yakni Halmahera Timur (Maluku Utara) sebagai area hulu yang mencakup tambang nikel, smelter, HPAL, hingga produksi prekursor dan katoda. Kemudian Jawa Barat sebagai area hilir yang difokuskan pada produksi sel baterai.

Meski menggandeng investor asing, Bahlil menegaskan kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan ANTAM. Hal ini sesuai dengan mandat Pasal 33 UUD 1945 dan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto terkait hilirisasi sumber daya alam.

"Arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara," katanya.

Menariknya, output dari Proyek Titan tidak hanya difokuskan untuk pasar EV, tetapi juga dipersiapkan untuk mendukung target ambisius pembangkit listrik hijau pemerintah, termasuk program PLTS 100 GW.

"Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga didesain untuk baterai panas surya," pungkas Bahlil.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: