China Ikut Jadi 'Target' Rencana Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat (AS) rupanya memiliki target lain dalam upayanya memberikan tekanan secara diplomatik hingga militer ke Iran. Target lain tersebut adalah menekan pembelian minyak dari China.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. Hal itu termasuk dengan mengurangi ekspor minyak dari negara tersebut ke China.
Baca Juga: Galang Dukungan Global, Taiwan Semua Bongkar Hipokrisi China
“Kami sepakat bahwa kami akan bertindak penuh dengan tekanan maksimum terhadap Iran. Hal itu termasuk terkait penjualan minyak dari negara itu ke China,” ujar Pejabat Gedung Putih, dikutip dari Axios.
Trump di sisi lain juga dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi militer berkelanjutan selama berminggu-minggu terhadap Iran. Perencanaan kali ini dilaporkan jauh lebih kompleks dibandingkan operasi sebelumnya yang menyerang fasilitas pengembangan nuklir dari Iran.
Dalam rencana serangan berkelanjutan terbaru ini, target serangan tidak hanya terbatas pada fasilitas nuklir, tetapi juga dapat mencakup fasilitas negara dan keamanan dari Iran. Namun, rincian spesifik target tidak diungkapkan.
Rencana ini bocor berbarengan dengan ungkapan mengejutkan dari salah satu sekutu dari AS. Kanada baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Iran.
Baca Juga: Sinyal Perang Dunia, Amerika Serikat (AS) Diam-diam Siapkan Operasi Militer Panjang di Iran
“Kami tidak akan membuka kembali hubungan diplomatik dengan mereka kecuali terjadi perubahan rezim di Iran. Titik,” ujar Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand.
Secara keseluruhan, tekanan yang menyasar komoditas minyak ini berpotensi berdampak signifikan terhadap perekonomian dari Iran. China diketahui menyerap lebih dari delapan puluh persen ekspor minyakdari Iran. Setiap pembatasan terhadap aliran minyak tersebut diperkirakan akan langsung menekan pendapatan utama dari Teheran.
Baca Juga: Jika Pecah, Perang Amerika-Iran tidak Akan Singkat karena Pengaruh Tiongkok
Kementerian Luar Negeri China sendiri buka suara terkait hal ini dengan menegaskan bahwa kerja sama energi antara kedua negara merupakan hal yang sah.
Baca Juga: Secanggih Apa Dua Kapal yang Dikirim Trump Mendekati Iran?
“Kerja sama normal antarnegara yang dilakukan dalam kerangka hukum internasional adalah wajar dan sah, serta harus dihormati dan dilindungi,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: