Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konsumen Cenderung 'Selektif' di Ramadan 2026, Bisnis Perlu Manfaatkan AI untuk Jadi 'Spending Partner'

Konsumen Cenderung 'Selektif' di Ramadan 2026, Bisnis Perlu Manfaatkan AI untuk Jadi 'Spending Partner' Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ramadan menjadi salah satu momentum ekonomi terbesar di Indonesia dengan lonjakan aktivitas belanja dan transaksi digital. Namun memasuki Ramadan 2026, pola konsumsi masyarakat mulai berubah. Di tengah tekanan biaya hidup, konsumen Indonesia kini terlihat semakin selektif dan lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan belanja.

Perubahan ini juga memengaruhi strategi pemasaran digital yang dilakukan berbagai brand. Perusahaan teknologi komunikasi global, Infobip, menilai perusahaan perlu mengubah pendekatan pemasaran dari sekadar mendorong penjualan menjadi mitra pengelolaan pengeluaran bagi konsumen.

Enterprise Business Director Infobip, Kukuh Prayogi, menjelaskan bahwa konsumen Indonesia dikenal sensitif terhadap harga. Namun dalam kondisi ekonomi saat ini, mereka tidak lagi hanya mencari promosi besar, tetapi juga mempertimbangkan nilai dari setiap pembelian.

“Dalam situasi ekonomi sekarang, konsumen semakin aktif membandingkan harga, memperpanjang fase pertimbangan sebelum membeli, dan mulai melakukan riset lebih awal menjelang Ramadan. Artinya brand tidak cukup hanya menawarkan promosi, tetapi juga harus memberikan value yang relevan bagi konsumen,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (10/3).

Berdasarkan tren Ramadan sebelumnya, puncak aktivitas belanja biasanya terjadi sekitar dua minggu sebelum hingga dua minggu setelah Ramadan. Namun kini pola konsumsi semakin dipengaruhi oleh perencanaan yang lebih matang.

Infobip, yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2016, mengamati bahwa perubahan perilaku konsumen tidak lagi hanya didorong oleh digitalisasi dan penetrasi smartphone. Saat ini, konsumen mulai mengadopsi pola belanja yang lebih cerdas dan terencana.

Menurut Kukuh, konsumen juga mengharapkan pengalaman digital yang cepat sekaligus personal. Hal ini membuat strategi komunikasi massal atau one for all semakin sulit memberikan hasil yang optimal.

“Brand perlu memahami kebutuhan konsumen secara lebih personal. Pendekatan hyper-personalization menjadi semakin penting agar komunikasi tetap relevan, terutama pada periode kompetitif seperti Ramadan,” katanya.

Untuk menjawab perubahan tersebut, semakin banyak brand memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam strategi pemasaran dan komunikasi pelanggan.

Teknologi AI memungkinkan perusahaan menganalisis pola perilaku konsumen, mengidentifikasi niat belanja lebih awal, serta memberikan rekomendasi produk yang lebih relevan. Dengan pendekatan ini, brand dapat beralih dari strategi pemasaran reaktif menjadi lebih proaktif.

Infobip mencatat sekitar 50 persen implementasi AI dalam sistem messaging saat ini sudah didukung oleh teknologi Generative AI. Teknologi tersebut memungkinkan brand menciptakan konten promosi, rekomendasi produk, hingga penawaran personal dalam skala besar.

Meski demikian, penggunaan AI juga perlu diimbangi dengan tata kelola data yang baik.

“Di pasar yang kompetitif seperti Indonesia, relevansi harus berjalan berdampingan dengan kepercayaan. Penggunaan AI perlu dilakukan secara transparan dengan tetap menghormati persetujuan serta perlindungan data pelanggan,” jelas Kukuh.

Dalam konteks Ramadan, Infobip melihat peluang bagi brand untuk bertransformasi dari sekadar sales pusher menjadi spending partner bagi konsumen.

Melalui teknologi AI dalam customer engagement, brand dapat membantu pelanggan merencanakan belanja lebih awal, memberikan notifikasi penurunan harga, merekomendasikan bundling produk yang lebih hemat, hingga mengelola keranjang belanja secara prediktif selama periode perencanaan Ramadan.

Pendekatan ini dinilai dapat membangun hubungan yang lebih relevan antara brand dan konsumen, sekaligus meningkatkan loyalitas pelanggan.

Dalam dua dekade terakhir, komunikasi antara brand dan pelanggan juga mengalami evolusi besar. Sebagian besar komunikasi saat ini masih menggunakan model application-to-person (A2P), yaitu ketika sistem atau aplikasi mengirimkan pesan kepada pelanggan seperti notifikasi promo atau pengingat transaksi.

Namun ke depan, pola ini diperkirakan akan berkembang menuju model agent-to-person, di mana AI agent tidak hanya mengirim pesan tetapi juga membantu pelanggan secara aktif berdasarkan konteks dan perilaku secara real time.

Tahap berikutnya bahkan menuju model agent-to-agent, di mana sistem AI dapat mengambil keputusan serta menjalankan tindakan secara otomatis dalam perjalanan pelanggan.

Untuk mendukung transformasi tersebut, Infobip berencana meluncurkan platform AI-native terbaru bernama AgentOS pada April mendatang.

AgentOS dirancang untuk mengatasi salah satu kendala terbesar dalam implementasi AI di perusahaan, yaitu silo data dan kompleksitas sistem internal.

Platform ini mengintegrasikan fungsi marketing, penjualan, serta layanan pelanggan dalam satu ekosistem berbasis AI. Sistem tersebut menghubungkan data pelanggan, channel komunikasi, dan niat pelanggan sehingga brand dapat merancang interaksi yang lebih kontekstual.

Baca Juga: Menperin: AI Dongkrak Pemasaran Digital IKM

Melalui platform ini, AI dapat menentukan langkah interaksi berikutnya secara real time dan menjangkau pelanggan melalui berbagai channel digital seperti WhatsApp, RCS, SMS, email, hingga voice.

Meski berbasis AI, pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan konsep human-in-the-loop, di mana peran manusia tetap penting dalam menangani situasi kompleks serta memastikan sistem berjalan dengan baik.

“AI membantu brand beroperasi dengan skala dan kecepatan yang lebih tinggi. Namun peran manusia tetap penting untuk memastikan kualitas interaksi dan pengembangan sistem ke depan,” tutup Kukuh.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: