Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Krisis Ekonomi Iran Memburuk, Harga Melonjak di Tengah Dampak Perang

Krisis Ekonomi Iran Memburuk, Harga Melonjak di Tengah Dampak Perang Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Krisis ekonomi Iran kian memburuk seiring dampak perang dengan Amerika Serikat dan Israel, ditandai lonjakan harga kebutuhan, anjloknya nilai mata uang, serta meluasnya pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor.

Dalam beberapa hari terakhir, harga berbagai kebutuhan mengalami kenaikan signifikan, mulai dari makanan, obat-obatan, mobil, peralatan listrik, hingga produk petrokimia.

Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk konflik berkepanjangan, sanksi Amerika Serikat, serangan terhadap infrastruktur, blokade laut, hingga pemadaman internet hampir total selama 64 hari di Teheran.

Tekanan ekonomi semakin terasa setelah nilai tukar rial terpuruk ke level terendah sepanjang sejarah di pasar terbuka, yakni 1,84 juta rial per dolar AS.

Ketidakpastian pasar juga membuat aktivitas ekonomi tersendat. Banyak pelaku usaha dan konsumen memilih menahan transaksi karena khawatir harga terus bergejolak dan pasokan barang tidak stabil.

Di sektor otomotif, mobil Peugeot 206 produksi lokal kini dibanderol sekitar 30 miliar rial atau setara US$16.500. Sementara itu, mobil impor menjadi semakin langka dan dijual hingga lebih dari lima kali lipat dibanding harga di negara tetangga seperti Uni Emirat Arab.

Pemerintah melalui media resminya mengakui adanya kenaikan harga harian, namun menyebut faktor "psikologis" dan praktik "harga palsu" oleh pedagang turut memengaruhi kondisi pasar.

Di sisi lain, tekanan ekonomi sangat dirasakan masyarakat.

Upah minimum bulanan saat ini kurang dari 170 juta rial atau sekitar US$92, meski telah dinaikkan sekitar 60% sejak Maret lalu.

Melansir Al Jazeera, Pemerintah Iran juga hanya mampu memberikan subsidi kebutuhan pokok kurang dari US$10 per bulan per orang.

"Anda melihat harga dan gaji, dan Anda melihat angka-angkanya tidak sesuai," ujar seorang warga Teheran yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (3/5/2026).

"Tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain mengubah sedikit yang Anda miliki menjadi sesuatu yang tidak mengalami penyusutan nilai atau membeli sesuatu yang Anda butuhkan yang mungkin tidak mampu Anda beli nanti," tambahnya.

Gelombang tekanan ekonomi juga berdampak pada sektor ketenagakerjaan.

Meski pemerintah Iran belum merinci jumlah pasti, laporan menunjukkan banyak perusahaan dari sektor teknologi hingga industri baja melakukan pemutusan hubungan kerja.

Baca Juga: Trump Minta Iran Jangan Macam-macam: Serangan Amerika Serikat Bisa Dilanjutkan

Dalam pernyataan resminya, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan pentingnya ketahanan nasional di berbagai bidang, tidak hanya militer.

"Iran sedang menempuh jalan menuju puncak kemajuan dan perkembangan," katanya.

Ia juga meminta perusahaan untuk menahan diri dari melakukan PHK, di tengah situasi ekonomi yang semakin menekan masyarakat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: