Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Memori dan SSD Diprediksi Terus Naik hingga 2028, Industri AI Jadi Pemicu Utama

Harga Memori dan SSD Diprediksi Terus Naik hingga 2028, Industri AI Jadi Pemicu Utama Kredit Foto: Akamai
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah kelangkaan dan kenaikan harga memori saat ini, pasar memori dan penyimpanan global diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pasokan dalam beberapa tahun ke depan. Kelangkaan memori (DRAM) dan SSD (NAND) bahkan disebut berpotensi berlangsung hingga 2028 seiring lonjakan kebutuhan industri Artificial Intelligence (AI).

Laporan WCCF Tech menyebut tingginya permintaan dari perusahaan AI membuat produsen memori dan SSD kesulitan mengejar kebutuhan pasar, baik untuk segmen enterprise maupun konsumen.

CEO Silicon Motion sekaligus General Manager SIMO-US, Chia-Chang Gou, mengatakan fokus investasi AI kini mulai bergeser dari tahap pelatihan model (training) menuju inference atau penggunaan AI secara masif. Pergeseran tersebut dinilai mendorong peningkatan kebutuhan memori dan storage secara bersamaan.

Menurut Gou, kondisi ketatnya pasokan DRAM dan NAND Flash diperkirakan tidak akan mudah diselesaikan dalam waktu dekat. Bahkan, NAND Flash disebut berpotensi mengalami kelangkaan hingga 2028, sementara harga memori diprediksi terus naik pada paruh kedua tahun ini.

Kondisi tersebut terjadi karena pembangunan fasilitas produksi baru membutuhkan waktu panjang. Produsen DRAM dan NAND memang tengah memperluas kapasitas pabrik, namun sebagian besar fasilitas baru diperkirakan baru mulai beroperasi sekitar 2027.

Artinya, produksi massal baru dapat berjalan pada akhir 2027 atau awal 2028. Selain itu, kapasitas tambahan tersebut diperkirakan hanya cukup memenuhi kebutuhan industri AI yang terus meningkat pesat.

Dalam laporan itu disebutkan, pada tingkat produksi saat ini, produsen DRAM dan NAND hanya mampu memenuhi sekitar 60% hingga 70% dari total permintaan pasar global. Situasi diperkirakan semakin menantang dengan hadirnya pusat data berskala gigawatt dalam beberapa tahun ke depan yang membutuhkan kapasitas memori jauh lebih besar.

Silicon Motion, yang dikenal sebagai produsen controller NAND untuk SSD enterprise dan konsumen, menilai perusahaan AI kini mulai mengamankan suplai komponen melalui kontrak jangka panjang dan pembayaran di muka demi memastikan ketersediaan pasokan.

Tekanan tersebut juga mulai memengaruhi strategi produsen besar. SK Hynix disebut sempat menolak investasi tertentu agar tidak membatasi distribusi produknya hanya kepada vendor tertentu.

Gou menjelaskan, pembangunan pabrik semikonduktor hingga mencapai tahap produksi massal membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun. Setelah itu, proses distribusi produk juga masih memerlukan waktu tambahan sekitar satu hingga satu setengah tahun.

Karena itu, kesenjangan antara permintaan dan pasokan dinilai sulit diatasi dalam jangka pendek.

Dampak dari kondisi ini diperkirakan akan terasa langsung pada harga produk teknologi global. Silicon Motion memperkirakan harga memori dan SSD akan terus meningkat sepanjang semester kedua tahun ini.

Kenaikan harga komponen juga mulai menekan produsen perangkat elektronik konsumen. Beberapa produk disebut terancam dihentikan produksinya akibat tingginya biaya komponen.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Buat Harga Smartphone Naik? Ini Kata Xiaomi dan Vivo

Baca Juga: Waduh! Tanpa Disadari, Kenaikan Harga Minyak juga Bikin Perlindungan Finansial Menyusut

Sementara itu, produsen asal China yang sebelumnya dipandang dapat membantu menambah pasokan global kini juga menghadapi tekanan permintaan domestik yang tinggi.

Di sisi lain, Samsung Electronics sebelumnya juga memperingatkan bahwa kondisi kekurangan memori diperkirakan akan semakin berat pada 2027 dibandingkan 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan industri semikonduktor global tengah memasuki fase persaingan pasokan yang semakin ketat, terutama akibat ekspansi besar-besaran infrastruktur AI di berbagai negara.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri