Bisnis Produk Digital Game Jadi Sumber Cuan Baru Freelancer dan Anak Muda
Kredit Foto: Ist
Tren ekonomi digital mendorong munculnya sumber penghasilan baru berbasis komunitas gaming. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan hiburan kini berkembang menjadi peluang bisnis digital melalui penjualan voucher game, top up, hingga toko produk digital berbasis online yang dijalankan secara fleksibel oleh kalangan freelancer dan anak muda.
Fenomena tersebut salah satunya dirasakan Denu, seorang freelancer yang mengaku mampu memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan dari bisnis produk digital game yang dijalankan secara online.
Denu mengatakan awalnya mencoba membangun toko digital game secara sederhana sambil tetap menjalankan pekerjaan utamanya sebagai freelancer.
“Awalnya saya coba GameSquad karena penasaran aja, tapi ternyata sistemnya cukup simpel dan gampang dipahami. Saya juga enggak perlu ribet setup banyak hal, dan semuanya terasa lebih praktis karena sudah ada sistem otomatis yang membantu proses transaksi berjalan 24 jam,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan mencari pemasukan tambahan menjadi alasan utama mulai masuk ke bisnis produk digital game.
“Sebagai freelancer, saya cukup ngerasain gimana rasanya kalau pemasukan itu bergantung sama kerjaan yang lagi berjalan. Jadi ketika lagi sepi proyek atau lagi enggak produktif, penghasilan juga ikut menurun. Karena itu saya mulai nyari cara buat punya pemasukan tambahan yang bisa berjalan sambil fokus sama kerjaan utama,” katanya.
Denu mengaku memulai bisnis tersebut secara bertahap melalui promosi sederhana di media sosial, komunitas game, hingga lingkungan pertemanan.
Alih-alih langsung fokus berjualan agresif, ia memilih membangun audiens terlebih dahulu melalui konten ringan terkait game dan aktivitas komunitas gaming.
“Awal-awal juga enggak langsung ramai. Pernah sepi order juga. Tapi saya jalanin pelan-pelan sambil belajar bikin konten dan aktif di komunitas,” jelasnya.
Model bisnis produk digital dinilai mulai diminati karena tidak memerlukan stok barang fisik dan seluruh transaksi dapat berjalan otomatis melalui sistem digital.
Pertumbuhan industri game di Indonesia turut menjadi pendorong meningkatnya kebutuhan layanan top up dan voucher digital seperti Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, hingga Roblox.
Kondisi tersebut membuka peluang bisnis baru berbasis ekonomi digital dengan modal relatif rendah tanpa kebutuhan toko fisik.
Melihat tren tersebut, sejumlah platform toko digital game mulai menyediakan layanan yang memungkinkan pengguna membangun toko digital sendiri, termasuk sistem transaksi otomatis dan integrasi promosi melalui media sosial.
Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan industri game tidak lagi sekadar menjadi sektor hiburan, tetapi mulai berkembang menjadi bagian dari creator economy dan bisnis digital berbasis komunitas.
“Sejauh ini pengalaman saya cukup positif, dan honestly saya senang karena ternyata hal yang awalnya cuma ‘coba-coba’ bisa berkembang sejauh ini sampai akhirnya dipercaya jadi salah satu featured user dan Elite Partner di GameSquad,” tutup Denu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: