Iran Dijanjikan US$12 Miliar Asal Damai dengan Amerika dan Israel? Begini Klarifikasi dari Qatar
Kredit Foto: Istimewa
Isu mengenai tawaran dana fantastis senilai US$12 miliar atau sekitar lebih dari Rp200 triliun kepada Iran demi mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memicu perhatian internasional. Namun di tengah rumor yang terus berkembang, Qatar justru tampil membantah keras tudingan tersebut.
Pemerintah Qatar menegaskan kabar bahwa mereka menawarkan uang kepada Teheran untuk mempercepat perjanjian damai hanyalah narasi menyesatkan yang sengaja dimainkan untuk menggagalkan diplomasi kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Bukan 'Serangan Mendadak' Biasa, Amerika Dinilai Tengah Lakukan Operasi Intelijen di Iran
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari menyebut laporan tersebut sama sekali tidak berdasar dan berpotensi merusak proses negosiasi yang sedang berlangsung.
“Laporan yang mengklaim Qatar menawarkan US$12 miliar kepada Iran untuk memastikan tercapainya kesepakatan sepenuhnya tidak berdasar,” tulis Al Ansari melalui platform X.
Bantahan Qatar justru membuka perhatian baru terhadap satu detail penting yang sebelumnya luput dari sorotan: angka US$12 miliar itu ternyata berkaitan dengan aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri, termasuk yang berada di Qatar.
Di tengah meningkatnya manuver diplomatik, pejabat tinggi Iran mulai berdatangan ke Doha. Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, dilaporkan tiba di Qatar pada Senin untuk membahas isu aset beku tersebut.
Langkah itu terjadi hanya beberapa hari setelah delegasi Qatar berkunjung ke Teheran guna mendiskusikan dana Iran yang tertahan di luar negeri. Dana inilah yang kemudian dikaitkan dengan rumor “uang perdamaian” bagi Iran.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa perang narasi kini menjadi bagian penting dalam negosiasi geopolitik Timur Tengah. Di satu sisi, Iran membutuhkan pencairan aset untuk menopang ekonomi domestik yang tertekan akibat sanksi. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel menginginkan jaminan keamanan regional pascaperang.
Konflik besar sendiri pecah pada 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan mendadak ke Iran. Teheran membalas dengan rentetan drone dan rudal yang menghantam sejumlah target strategis di kawasan, sekaligus menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Ketegangan tersebut sempat mengguncang pasar global karena ancaman terhadap distribusi minyak internasional.
Gencatan senjata akhirnya tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Meski demikian, negosiasi lanjutan di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan permanen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim kesepakatan damai sebenarnya sudah “sebagian besar dinegosiasikan” dan hanya tinggal menunggu finalisasi.
Baca Juga: Trump: Uranium Nuklir Iran Akan Dibawa ke Amerika Serikat
Namun rumor soal dana US$12 miliar menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian Timur Tengah ternyata tidak hanya soal senjata dan militer, tetapi juga menyangkut perang ekonomi, aset beku, dan perebutan pengaruh diplomatik di balik layar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: