Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amalan 1 Muharram 1448 H yang Sayang Dilewatkan, dari Muhasabah hingga Puasa Asyura

Amalan 1 Muharram 1448 H yang Sayang Dilewatkan, dari Muhasabah hingga Puasa Asyura Kredit Foto: Pexels/Rizky Sabriansyah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ada amalan yang sayang jika dilewatkan saat memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah yang berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Datangnya bulan Muharram tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki kualitas diri.

Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram atau bulan suci yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Karena itu, pergantian tahun baru Hijriah sepatutnya disambut dengan memperbanyak ibadah dan memperkuat akhlak, bukan dengan ritual yang tidak memiliki landasan syariat.

Keutamaan Muharram ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa terdapat empat bulan haram dalam satu tahun Hijriah. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam diperintahkan untuk tidak menzalimi diri sendiri dengan melakukan kemaksiatan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan empat bulan haram tersebut dalam hadis sahih, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Para ulama menerangkan bahwa dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki konsekuensi lebih berat, sementara amal saleh akan memperoleh keutamaan yang lebih besar. Oleh sebab itu, Muharram menjadi kesempatan berharga untuk meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan berbagai perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT.

Keistimewaan Muharram semakin terlihat karena Rasulullah SAW menyebutnya sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.

Penyebutan Muharram sebagai Syahrullah menunjukkan kemuliaan bulan ini. Meski seluruh bulan merupakan milik Allah SWT, tidak semua bulan mendapatkan penyebutan khusus sebagaimana Muharram.

Salah satu amalan utama yang dianjurkan selama Muharram adalah memperbanyak puasa sunnah. Hadis Rasulullah SAW menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan. Umat Islam dapat melaksanakan puasa sunnah sesuai kemampuan sepanjang bulan ini.

Amalan utama yang sangat dianjurkan selama Muharram adalah memperbanyak puasa sunnah. Rasulullah saw bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Selain itu, puasa Tasu'a dan Asyura menjadi ibadah yang sangat dianjurkan. Puasa Tasu'a dilaksanakan pada 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura pada 10 Muharram.

Tentang keutamaan puasa Asyura, Ibnu Abbas berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan melebihi hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura.” (HR. al-Bukhari)

Hari Asyura memiliki nilai sejarah yang besar. Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.

Agar berbeda dengan tradisi Yahudi, Rasulullah saw berkeinginan menambahkan puasa sehari sebelumnya:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW kemudian bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS. Beliau pun berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk melaksanakannya.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan puasa Asyura dibandingkan puasa sunnah lainnya. Untuk membedakan pelaksanaannya dengan tradisi kaum Yahudi, Rasulullah SAW juga menganjurkan berpuasa sehari sebelumnya, yakni pada 9 Muharram.

Baca Juga: LENGKAP! Doa Awal dan Akhir Tahun Baru Islam, Baca 3 Kali Setan Bakal Menyerah!

Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amal saleh lainnya selama Muharram, seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, bersedekah, melaksanakan qiyamul lail, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir. Pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk menilai kembali kualitas ibadah, akhlak, dan hubungan dengan sesama.

Memasuki 1448 Hijriah, setiap muslim dapat menjadikan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, dengan memperbanyak amal saleh dan memperkuat komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: