Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prestasi Dedi Mulyadi Berpotensi Diklaim 'Hasil Arahan Prabowo

Prestasi Dedi Mulyadi Berpotensi Diklaim 'Hasil Arahan Prabowo Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto bisa dimanfaatkan oleh Partai Gerindra.

Menurut Hersu, partai dapat membingkai bahwa capaian Dedi merupakan hasil arahan langsung dari Prabowo, sehingga personalisasi prestasi Dedi perlahan terkikis.

"Sebenarnya Dedi Mulyadi juga bisa dimanfaatkan bahwa bagaimanapun juga satu dia adalah kader Partai Gerindra, kedua dia adalah gubernur yang bisa diandalkan bahwa semua aktivitas Dedi Mulyadi itu adalah atas arahan Presiden Prabowo Subianto," ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (31/7).

"Jadi struktur media partai harus langsung membingkai setiap apresiasi publik atas kinerja Dedi sebagai keberhasilan eksekusi dari visi misi besar Presiden Prabowo Subianto. Dan ini bisa mengikis personalisasi prestasi Dedi secara perlahan," jelasnya.

Sebagai informasi, dalam survei elektabilitas calon presiden terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo.

Baca Juga: Rangkul Tapi Kunci: Strategi Tersembunyi Gerindra Hadapi Elektabilitas Dedi Mulyadi

Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 35%, sedangkan Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5%. Dalam simulasi head to head, keunggulan Dedi melebar hingga 59% berbanding 28,3% untuk Prabowo. 

Indikator Politik Indonesia juga mencatat Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas. Meski tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi (98,8% vs 88,2%), tingkat kesukaan responden terhadap Dedi jauh lebih unggul, yakni 88,3% dibanding Prabowo yang hanya 68,1%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya