- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Pemulihan Bisnis Seluler Dongkrak Laba Normalisasi Telkom 6,2% pada Semester I 2026
Kredit Foto: Telkom
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 3,9% secara tahunan (year on year/YoY). Sejalan dengan itu, EBITDA meningkat 3,8% YoY menjadi Rp37,5 triliun, sementara laba bersih normalisasi naik 6,2% YoY menjadi Rp11,3 triliun, didorong pemulihan bisnis seluler melalui Telkomsel.
Perseroan juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,6 triliun, meningkat 1,4% YoY, dengan margin laba bersih mencapai 14%. Adapun arus kas operasional tumbuh 7% YoY menjadi Rp34,9 triliun, didukung efisiensi biaya dan pengelolaan operasional.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan capaian tersebut mencerminkan hasil implementasi strategi transformasi TLKM 30 yang dijalankan perseroan.
“Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini,” ujar Dian dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).
Bisnis Seluler Pulih
Kontributor terbesar pendapatan Telkom masih berasal dari segmen Business to Consumer (B2C) melalui Telkomsel.
Sepanjang semester I 2026, Telkomsel membukukan pendapatan Rp55,6 triliun, naik 3,3% YoY, ditopang pertumbuhan pendapatan Digital Business Data sebesar 11%.
Perbaikan industri seluler juga tercermin dari kenaikan Average Revenue Per User (ARPU) menjadi Rp45.600, meningkat 9% YoY. Di sisi lain, konsumsi data terus meningkat selama musim liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia, sehingga mendorong trafik layanan data.
Pada bisnis fixed broadband, Telkomsel melakukan penyesuaian basis pelanggan untuk meningkatkan kualitas pelanggan. Jumlah pelanggan IndiHome tercatat 9,5 juta, turun dari 10,1 juta pada semester I 2025.
Meski demikian, ARPU IndiHome meningkat menjadi Rp211.000 secara kuartalan, sedangkan secara semesteran mencapai Rp207.000. Rasio konvergensi layanan juga meningkat menjadi 65%.
Bisnis Infrastruktur Digital Bertumbuh
Segmen Business to Business (B2B) Infrastructure mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan bisnis konsumer.
Pendapatan segmen tersebut meningkat 19% YoY menjadi Rp33,1 triliun, sedangkan pendapatan eksternal naik 4,9%menjadi Rp4,7 triliun, didorong bisnis data, internet, dan layanan teknologi informasi.
Anak usaha Telkom di bisnis menara, Mitratel, membukukan pendapatan Rp4,7 triliun, tumbuh 2,1% YoY. Jumlah penyewa menara meningkat 4,9% menjadi 63.866 tenant, sehingga rasio penyewaan (tenancy ratio) naik menjadi 1,57 kali.
Sementara itu, Telkom juga melanjutkan konsolidasi bisnis data center melalui NeutraDC. Perseroan akan menjadikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat seluruh aset pusat data TelkomGroup untuk memperkuat monetisasi aset dan memperluas kolaborasi dengan mitra strategis.
Di segmen B2B ICT, pendapatan mencapai Rp7,3 triliun, tumbuh 35,7% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ)meskipun masih dipengaruhi restrukturisasi portofolio bisnis.
Adapun bisnis internasional mencatatkan pendapatan Rp5,7 triliun. Telkom menyatakan permintaan kapasitas kabel bawah laut internasional terus meningkat seiring kebutuhan infrastruktur digital untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Belanja Modal Rp10,8 Triliun
Pada semester I 2026, Telkom merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp10,8 triliun. Lebih dari 96% anggaran tersebut dialokasikan untuk pengembangan bisnis prioritas pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.
Perseroan juga menyelesaikan penyederhanaan terhadap 10 entitas usaha melalui divestasi, merger, dan likuidasi sebagai bagian dari penataan portofolio bisnis.
Selain itu, Telkom melanjutkan persiapan pengalihan aset InfraNexia Tahap II yang ditargetkan rampung pada semester II 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Oleh karena itu, Telkom akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital,” kata Dian.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: