Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inflasi RI Tembus 2,88%, Harga Pangan Kembali Jadi Biang Kerok

Inflasi RI Tembus 2,88%, Harga Pangan Kembali Jadi Biang Kerok Kredit Foto: Antara/ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia secara tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,88% pada Juli 2026, lebih tinggi dibandingkan 2,37% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,87%.

"Inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Selain kelompok pangan, inflasi juga ditopang oleh kelompok transportasi dengan andil 0,62%, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61%.

Berdasarkan komponennya, seluruh penyusun inflasi mengalami kenaikan pada Juli 2026. Inflasi inti menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,76%, diikuti komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices)sebesar 0,70%, dan harga bergejolak (volatile food) sebesar 0,42%.

Menurut Ateng, inflasi inti dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah barang dan jasa, antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya pendidikan di akademi dan perguruan tinggi.

Dari sisi wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mencatat inflasi tahunan pada Juli 2026. Papua Barat menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 5,47%, sedangkan Papua Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 1,46%.

Meski inflasi tahunan meningkat, BPS mencatat Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026.

Ateng menjelaskan deflasi dipicu oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi bulanan dengan penurunan harga sebesar 0,89% dan andil 0,26% terhadap deflasi nasional.

Baca Juga: Inflasi AS Turun Tajam, Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat

Baca Juga: IHSG Naik ke 6.068 pada Pembukaan, Sentimen Inflasi AS Topang Pasar

Komoditas yang paling besar menekan inflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, disusul cabai merahdan cabai rawit yang masing-masing menyumbang 0,06%.

Penurunan harga juga terjadi pada telur ayam ras dan tomat, yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,03%, sedangkan jeruk menyumbang 0,02%.

Di luar kelompok pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,89%dengan andil 0,06% terhadap deflasi nasional. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga emas perhiasan sebesar 3,58%, yang memberikan andil deflasi 0,08%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri