Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (4/8/2026) di zona hijau. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 25,82 poin atau 0,41% ke level 6.260,32, dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.234,50.
Penguatan tersebut diiringi aktivitas perdagangan yang cukup ramai. Hingga awal sesi, nilai transaksi mencapai Rp256,2 miliar, dengan volume perdagangan 445,8 juta saham dalam 52.240 kali transaksi.
Mayoritas saham juga bergerak positif. Sebanyak 322 saham menguat, 95 saham melemah, dan 546 saham diperdagangkan stagnan.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut hingga menguji level 6.300. Secara teknikal, indeks diperkirakan bergerak di kisaran support 6.180, pivot 6.230, dan resistance 6.300.
"IHSG masih berpeluang melanjutkan rebound dan menguji area resistance di kisaran 6.250-6.300," tulis Phintraco Sekuritas.
Optimisme tersebut didukung indikator teknikal yang masih positif. Meski IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah tipis 0,03%, indikator Stochastic RSI telah berbalik naik (reversal), sementara histogram MACD masih berada di area positif.
Dari sisi fundamental, sentimen pasar juga ditopang oleh membaiknya kondisi ekonomi domestik. PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni, menjadi level tertinggi sejak Februari 2026 sekaligus menandakan sektor manufaktur kembali berekspansi setelah empat bulan mengalami kontraksi.
Baca Juga: OJK Pamer IHSG Sudah Mulai Bangkit Usai Anjlok Hampir 20%
Baca Juga: IHSG Berpeluang Tembus 6.400, Stabilitas Ekonomi dan Laporan Keuangan Jadi Katalis Positif
Baca Juga: BEI Masukkan 6 Emiten ke Daftar Pemantauan Khusus karena Free Float Rendah
Selain itu, defisit neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$0,45 miliar pada Juni 2026, lebih baik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei. Kinerja ekspor berbalik tumbuh 8,84% secara tahunan atau year on year (yoy) setelah sebelumnya terkontraksi 5,73%, meski impor juga meningkat 34,27% (yoy)
Tekanan inflasi pun mulai mereda. Inflasi tahunan pada Juli 2026 turun menjadi 2,88% (yoy) dari 3,34% (yoy) pada Juni, seiring terjadinya deflasi bulanan sebesar 0,14% yang dipicu turunnya harga pangan saat musim panen raya.
Phintraco Sekuritas memperkirakan tren inflasi yang lebih rendah masih akan berlanjut pada Agustus 2026, didukung penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berpotensi menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: