Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Berpeluang Rebound, RDG BI Jadi Penentu Arah Pasar

IHSG Berpeluang Rebound, RDG BI Jadi Penentu Arah Pasar Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang mengalami technical rebound pada perdagangan Rabu (23/9/2026) setelah terkoreksi tajam pada perdagangan sebelumnya. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang penguatan masih terbuka selama IHSG mampu bertahan di area MA60 sebagai level support penting.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal IHSG saat ini berada dalam fase koreksi wajar setelah terbentuk pola wave [iv]. Koreksi tersebut bahkan telah menyentuh MA60 yang menjadi salah satu support kuat.

“Dengan demikian, sejatinya struktur bullish masih berlaku dalam jangka panjang,” kata Nafan dalam riset hariannya.

Dari indikator teknikal, MA20 dan MA60 masih menunjukkan positive crossover yang didukung peningkatan volume perdagangan. Namun, indikator Stochastics K_D dan RSI masih memberikan sinyal negatif sehingga ruang penguatan IHSG tetap perlu dicermati.

Untuk perdagangan Rabu (23/9/2026), Nafan menilai sentimen IHSG berada dalam kategori mixed-to-cautiously positive. Peluang rebound teknikal terbuka apabila IHSG mampu bertahan di area MA60, terutama setelah koreksi tajam sehari sebelumnya.

Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan level support IHSG berada di 6.175 dan 6.106. Sementara itu, level resistance berada di 6.371 dan 6.452.

Nafan menilai hasil dan komunikasi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23 September akan menjadi salah satu penentu arah IHSG. Pernyataan BI yang mampu menenangkan pasar terkait nilai tukar rupiah dan stabilitas keuangan berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham.

Dari eksternal, sentimen pasar dinilai membaik. Penurunan harga minyak dan imbal hasil US Treasury menjadi katalis penting karena sebelumnya kedua faktor tersebut memberikan tekanan terhadap valuasi saham, khususnya sektor teknologi.

Harga Brent turun 1,92% menjadi US$98,41 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,65% ke US$89,92 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi di tengah ekspektasi bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di sela-sela Sidang Umum PBB dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak yang lebih rendah berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Sentimen tersebut turut mendorong penurunan yield US Treasury 10 tahun sebesar 0,16% menjadi 4,955%.

Menurut Nafan, perkembangan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.

Pasar Tunggu Arah Kebijakan BI

Dari dalam negeri, perhatian utama investor tertuju pada hasil RDG BI pada 23 September. Pelaku pasar secara umum memperkirakan BI Rate dipertahankan di level 5,75%.

Karena itu, fokus pasar diperkirakan tidak hanya pada keputusan suku bunga, tetapi juga pernyataan dan forward guidance BI terkait pelemahan rupiah, stabilitas pasar keuangan, serta respons terhadap tingginya yield global.

Sebelumnya, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi pelemahan rupiah sebesar 0,21% ke level Rp17.884 per dolar AS. Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di level 7,12%.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Uji Level 6.200, BI Rate Jadi Perhatian Pasar

Baca Juga: OJK Terbitkan Aturan Pemegang Saham BEI Usai Demutualisasi, Ini Isinya

Baca Juga: PBSA Dapat Restu Stock Split 1:2, Saham Beredar Jadi 6 Miliar

Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, Mirae Asset menyarankan investor menerapkan strategi yang selektif. Investor dapat melakukan akumulasi pada saham dengan fundamental solid dan valuasi yang relatif murah.

Selain itu, investor disarankan mencermati saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren serta tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

Adapun posisi IHSG saat ini mencatat daily net foreign sell sebesar Rp671,63 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun, net foreign sell mencapai Rp101,83 triliun, sementara kinerja IHSG secara year to date tercatat minus 27,41%.

Dengan kondisi tersebut, kemampuan IHSG bertahan di area MA60 dan respons pasar terhadap hasil RDG BI akan menjadi faktor penting dalam menentukan peluang rebound pada perdagangan berikutnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan