Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Netanyahu Salahkan Negara Lain, Sebut Warga Gaza Masih Terjebak karena Pengungsi Ditolak

Netanyahu Salahkan Negara Lain, Sebut Warga Gaza Masih Terjebak karena Pengungsi Ditolak Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding negara-negara lain ikut berperan membuat warga Jalur Gaza tetap terjebak di wilayah konflik. Menurutnya, penolakan terhadap pengungsi Palestina menjadi salah satu penyebab penduduk Gaza tidak dapat meninggalkan daerah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam sebuah podcast berbahasa Ibrani saat membahas situasi di Jalur Gaza. Ia mengklaim banyak negara enggan menerima warga Palestina yang ingin mengungsi karena khawatir dianggap membantu kepentingan Israel.

"Orang-orang sama sekali tidak diizinkan meninggalkan Gaza. Negara-negara berkata, 'Tidak, kami tidak akan menerima mereka, karena itu akan membantu Israel'," kata Netanyahu, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026).

Netanyahu kemudian mempertanyakan alasan di balik penolakan tersebut. Menurutnya, warga Gaza semestinya memiliki hak dasar yang sama seperti masyarakat di berbagai negara untuk dapat berpindah tempat.

"Saya bertanya: Bagaimana dengan membantu para penduduk Gaza? Mengapa mereka tidak memiliki hak dasar yang sama seperti miliaran orang di seluruh dunia, yaitu kebebasan untuk bergerak," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu juga melontarkan pernyataan kontroversial dengan membandingkan kondisi Jalur Gaza dengan Korea Utara. Ia menyebut hanya ada dua tempat di dunia yang penduduknya tidak bisa bebas meninggalkan wilayahnya.

Baca Juga: Aktif Kritik Isu Gaza, Israel Mulai Usik Spanyol Lewat Krisis Ceuta

"Menurut pendapat saya, hanya ada dua negara di dunia di mana rakyatnya tidak bisa pergi. Salah satunya adalah Korea Utara, dan yang satunya lagi bukanlah sebuah negara. Namun, sebenarnya tempat itu pernah menjadi sebuah negara. Tempat itu adalah negara Palestina," ucap Netanyahu.

Ia kemudian menambahkan bahwa warga Gaza tidak memiliki kebebasan untuk keluar dari wilayah tersebut.

"Penduduk Gaza dilarang untuk pergi," katanya.

Di sisi lain, Jalur Gaza memang telah lama berada di bawah blokade Israel. Pembatasan melalui jalur darat maupun laut telah diberlakukan selama hampir 15 tahun, jauh sebelum perang antara Israel dan Hamas pecah pada Oktober 2023.

Selama masa blokade tersebut, akses keluar-masuk Gaza hanya diberikan kepada sebagian kecil warga Palestina dengan persyaratan yang sangat ketat.

Perang yang berkecamuk sejak 2023 juga memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah itu. Jutaan warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan hingga kini banyak yang masih bertahan hidup di tengah puing-puing bangunan yang hancur akibat konflik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama